
Akhir pekan tiba. Aku tak sabar untuk melewati hari ini. Saat aku tengah mengikuti pelajaran, tiba-tiba guruku menyampaikan beberapa pengumuman.
“Tolong perhatiannya anak-anak!” ujarnya.
Murid-murid terdiam.
“Karena sebentar lagi kita akan merayakan hari Raya Idul Adha, jadi untuk hari Senin, Selasa, dan Rabu kalian belajar di rumah masing-masing,” lanjutnya.
Teman-temanku serentak berteriak kegirangan. Memang untuk ukuran seorang pelajar tak ada yang lebih menyenangkan selain hari libur. Tak di duga hari inipun sekolah pulang lebih awal.
“Estel, main kerumah gue yuk!” Bella mengajakku dengan ramah.
“Emang siapa aja yang ikut?” aku bertanya.
“Helen, Putri, sama lo!” jawab Bella dengan nada riang.
“Ya udah…” aku mengiyakan.
***
Kami ber-4 pergi kerumah Bella bersama-sama. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Pada saat kami sampai di pertigaan dekat rumah Bella, pandanganku terfokus pada seseorang yang sedang berjalan kearah kami. Jika aku di perbolehkan untuk jujur, aku cukup terkesima pada sosok laki-laki itu. Satu hal yang membuatku terkejut, laki-laki itu mengenakan seragam yang sama denganku. Saat itu juga aku menarik tangan Bella agar langkahnya sama denganku.
“Bella!” sahutku pelan.
“Apaan?” jawabnya.
“Itu siapa sih?” tanyaku sambil menuding laki-laki yang baru saja melewati kami.
“Yang mana?”
“Itu!!” sekali lagi aku menunjuk laki-laki yang sekarang sudah berada di depan kami.
“Oh , dia! Namanya Aldi, emangnya kenapa?” Tanya Bella penasaran.
“Cuma pengen tau aja!” jawabku malu-malu.
“Suka ya lo?” tuduh Bella.
“Eh, ada apa sih? Ngobrol nggak ajak-ajak kita!” Helen dan Putri langsung bergabung dengan kami.
“In nih… Estel suka sama si Aldi. Itu tu… anak kelas 3!” Bella membeberkan.
“Apaan sih lo Bell, nyebar gosip aja!” protesku.
“Gosip apa gosip?? Udah jujur aja sama kita, nggak akan ada yang tau kok!!” Putri menawarkan.
“Maksa atau ngancem tu??” aku bertanya.
“Kurang lebih!” jawab Helen dengan nada ringan.
“Cuma kagum kok!” aku membenarkan.
“Mau dibantu buat pedekate nggak?” Bella menawarkan.
Tawarannya cukup menggiurkan bagiku, tapi aku tahu itu salah satu taktik Bella untuk memancing keinginanku. Aku diam sejenak untuk berfikir.
“Oya, rumah gue deket lho sama rumah dia, jadi gampang deh kalau mau nyari info tentang dia. Apalagi nyokap kita udah saling kenal!” Bella menambahkan umpan pada kata-katanya itu. Karena tak sanggup menolak, aku setuju dengan tawaran itu.
“Ok gue setuju! Tapi jangan sampai ada yang tau tentang masalah ini.” Aku mengingatkan.
“Sip!” Helen menjamin.
***
Hari Raya tiba. Setelah shalat ID, tanganku di Tarik oleh kedua adikku. Aku terus di paksa untuk menemani mereka melihat hewan kurban di sembelih. Sungguh membosankan menyaksikan sapi, kambing, dan kerbau di amputasi. Benar-benar konyol. Aku memperhatikan kedua adikku yang sepertinya sangat menikmati sekali tontonan yang ada di depan mereka. Saat sedang asyik melamun, berkhayal tentang kakak kelas pujaanku Aldi, tiba-tiba Hp-ku berbunyi melenyapkan imajinasiku. Tertera nama Bella di layar Hp-ku.
“Halo! Ada apa Bell?”
“Halo Estel? Kok berisik banget! Lo ada di mana sih?”
Aku langsung menyingkir dari keramaian, dan menarik kedua adikku pulang menuju kerumah.
“Sorry Bell, gue habis dari tempat pemotongan hewan kurban.”
“Hahhh… tempat pemotongan hewan kurban? Ngapain lo kesana?”
“Nganterin adik gue nonton hewan di sembelih!”
“Waduh film gratisan tuh?”
“Udah ah… langsung aja!”
“Oo.. iya! Sorry, gue punya kabar lucu tentang Aldi!”
“Apaan?”
“Kejadiannya waktu malam takbiran. Gue sama adik gue habis dari warung dekat Musholla,”
“Ngapain?”
“Tunggu sebentar! Jangan di potong.”
“Sorry, lanjut.”
“Si Aldi lagi ngasih makan sapi, kambing, sama kerbau! Hahaha… ngenesin banget!! Waktu itu pengen gue foto, baru mau ambil posisi yang pas, si Aldi ngeliat gue! Langsung aja gue kabur. Yang lebih mengenaskan lagi, adik gue ketinggalan!! Mau gak mau gue harus balik lagi , untung aja waktu gue balik dia gak terlalu merhatiin, fokusnya kekambing.”
“Huahaha… kasian banget sih lo!! Terus,”
“Ya udah, itu doang sih info terbaru dari gue!!”
“Ok! Keren kok.”
“Apanya yang keren?”
“Waktu adik lo ketinggalan!”
“Bodo aahh…”
“Ya udah… thanks ya!”
“Iya!”
Aku menutup ponselku, tak sadar bahwa aku sudah sampai di rumah. Untung saja kedua adikku tidak tertinggal saat aku sedang asyik bertelefon tadi.
***
Keesokan harinya, aku tak sabar untuk segera tiba di sekolah. Setelah mendengar cerita Bella kemarin, aku semakin bersemangat untuk bertemu Aldi.
Aku berangkat terburu-buru kesekolah. Saat sampai di kelas, aku di sambut oleh ketiga sahabatku, tentunya Helen, Putri, dan Bella.
“Lagi pada ngomongin apaan nih?” tanyaku penasaran.
“Cerita soal Aldi kemarin!” sergah Helen.
“Gue gak nyangka, cowok pujaannya Estel ternyata sangat manusiawi, penyayang binatang! Hahaha…” sindir Putri.
“Muji atau ngeledek??” tanyaku sinis.
“Kurang lebih!! Hahaha…” Helen tertawa puas.
Aku terkekeh.
Saat aku berdiri di ambang pintu kelas bersama dengan ketiga kawanku, Aldi lewat bersama dengan gerombolannya. Tanpa berfikir panjang, Bella langsung tancap gas dengan omongannya.
“Siapa ya yang waktu malam takbiran mainan sama sapi??” sindir Bella.
Teman-teman Aldi memang tidak menggrubisnya, namun Aldi langsung memalingkan pandangannya kearah kami. Wajahnya menunjukan mimik sinis bercampur dengan rasa terkejut setelah mendengar kata-kata Bella barusan. Aldi membuang muka, dan terus berjalan menuju kantin sekolah.
“Bella, Parah banget sih lo!” protesku padanya.
“Biarin! Biar dia malu sekalian.” Tuding Bella.
“Terserah ahh…” kataku kesal.
***
Jam pelajaran akhirnya selesai, diganti dengan jam istirahat. Saat berada di kantin, aku berpapasan kembali dengan Aldi. Aku benar-benar menyukainya, dan ini lebih dari rasa kagumku. Tapi aku tidak berani mengatakan hal yang sebenarya.
***
Pagi tiba, aku pergi kesekolah dengan menaiki kendaraan umum. Aku sangat terkejut karena ternyata aku satu mobil dengan Aldi. Dan yang lebih membuat jantungku benar-benar meledak, Aldi duduk di sebelahku. Saat itu juga aku tersadar bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk menegurnya. Tapi perasaanku terbagi menjadi dua, antara takut dan berani. Tapi dengan penuh tekat aku berusaha untuk melawan perasaan itu.
“Kkaa… kak Aldi! Selamat pagi. Mma-af ya soal waktu itu!” sapaku gugup.
Aku sangat gugup untuk mengucapkan kalimat itu. Karena terlalu takut aku langsung memejamkan mata dan tidak berani memdengar jawaban dari Aldi.
“Pagi juga! Emangnya kamu salah apa? Kok minta maaf sama kakak?” jawab Aldi dengan nada tenang.
Aku sangat terkejut karena tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini. Tanpa berfikir dua kali aku langsung menjawab.
“Soal kakak di sindir sama temenku waktu itu!” jawabku gugup. Aku memberanikan diri untuk memandang wajah Aldi, dan saat aku menoleh wajahnya begitu tenang.
“Ohh… soal itu! Gak apa-apa lagi, kamu gak salah kok! Bukannya yang nyindir temen kamu ya?” wajahnya masih menampakan ekspresi tenang.
“Aku wakilin permintaan maafnya!”
“Oh, ya udah! Kakak maafin deh kalau kamu yang minta.”
‘Ya ampun! Ngomong apaan sih nih orang? Gue kan jadi salting!’ aku berseru dalam hati.
“Ehmm… makasih ya kak!” ucapku.
“Sama-sama! Oya, kakak boleh tau gak nama kamu siapa?” Aldi bertanya.
“Estel.” Jawabku singkat.
“Nama kamu bagus!” puji Aldi.
“Kalau gitu gentian aku! Boleh gak aku minta nomor Hp kakak?” aku bertanya. Kini kalimat yang aku ucapkan sudah tidak terasa berat lagi di mulut.
“Boleh catat ya!”
Setelah mendengarkan kata-kata itu, aku langsung mengeluarkan Hp dan mulai memainkan jari-jariku di atas tombol Hp.
“Makasih ya kak!”
Setelah insiden itu, entah kenapa aku langsung cocok dengannya. Kami berdua terus mengobrol hingga tidak sadar sudah sampai di sekolah. Aku benar-benar gembira.
***
Malam harinya aku mencoba mengirim SMS pada Aldi. Aku benar-benar ingin melakukannya, tapi aku takut SMSku tidak ia balas. Akhirnya tanganku menekan tombol send .
Aku menunggu beberapa menit. Sunggguh melegakan melihat SMSku di balas oleh Aldi. Mulai dari situlah, aku dan Aldi saling bercerita tentang diri masing-masing.
***
Sudah hampir satu Minggu aku melakukan pendekatan dengan Aldi. Nanti malam aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya.
Hari ini adalah hari Sabtu. Setiap hari Sabtu sekolahku memang di khususkan untuk kegiatan ekskul. Ketika pulang ekskul aku, Helen, Bella, dan Putri pergi ke bioskop. Hari ini sangat ramai, kamipun membagi tugas. Helen dan Bella bertugas untuk mengntri tiket, sedangkan aku dan Putri yang membeli makanan.
Saat sedang membayar makanan yang telah aku beli, tidak sengaja aku melihat sosok laki-laki yang sangat aku kenal. Ternyata laki-laki itu adalah Aldi. Saat aku ingin menghampirinya, tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang menghampirinya dan langsung menggandeng tangannya. Mereka berdua terlihat sangat mesra, begitu mesra di mataku. Tak kusadari air mataku sudah menetes begitu saja di pipi. Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku dan buru-buru pergi menghindari Putri, sebelum Putri mulai bertanya macam-macam padaku. Aku langsung masuk ke toilet wanita, dan menangis geram di salah satu closet.
Fikiranku saat ini benar-benar kacau. Aku langsung membasuh air mataku untuk menghilangkan bukti bahwa aku tadi menangis. Aku bergegas menghampiri sahabat-sahabatku yang sepertinya cemas melihatku hilang begitu saja.
“Hai!” sapaku.
“Hehh… habis dari mana lo?” Tanya Bella dengan cemas.
“Toilet.”
“Ngapain?”
“Pakai nanya lagi!! Emang mau ngapain lagi coba?”
“SoRry… kirain ilang! Ya udah, masuk yuk! Filmnya udah mau mulai.”
“Yuk!”
Sepanjang pemutaran film, aku benar-benar tidak memperhatikan. Yang ada di fikiranku hanya ada satu, yaitu masalah tadi. Mungkin alangkah baiknya jika aku dan Aldi hanya menjadi teman biasa. Niat untuk menyatakan perasaanku luntur sudah. Aku akan menyimpan perasaanku dalam hati, tepatnya hanya menjadi teman biasa.
***
Sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi mengirim message pada Aldi. Tapi itu memang yang terbaik untuk dia, aku, dan hatiku. Walaupun berat tapi tidak apa-apa , aku yakin suatu saat nanti pasti ada yang lebih baik dari pada dia . Ya aku yakin!
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar