Sabtu, 04 Februari 2012

I Love u, not him!

Sebenarnya agak-agak ya gue ngepost cerita ini karna udah lumayan lama juga tersimpan rapi dilaptop hehe tapi no problah dari pada gak pernah ngepost! silahkan dibaca :)
“Hai Donghae!” sapa Miina dari kejauhan ketika melihat sahabatnya itu tengah berjalan bersama teman-teman baru di sekolahnya. Dilihatnya Donghae tersenyum dan melambaikan tangannya. Miina pun mendekatinya. “Ingin pergi kemana kau?” tanya Minna. “Hanya ingin jalan-jalan! Kau?” tanya Donghae kembali. “Aku tadi sedang menemani Seorin!” “Loh dia sekarang dimana?” “Masih di dalam toko sedang memilih-milih baju! Aku malas menunggu di dalam, terlalu ramai -___- “ jelasnya dengan memperlihatkan wajah malasnya. “Oh haha yasudah kalau begitu aku duluan ya, tidak enak membuat yang lain menunggu!” pamit Donghae. “OK!” Miina pun melambaikan tangan padanya. Miina terus tersenyum memperhatikan punggungnya yang semakin menghilang dari pandangannya. Dia semakin dewasa! Mereka, yaitu Miina, Donghae, Seorin, Eunhyuk, dan Gyuri adalah sahabat baik. Karena terlalu dekat merekapun tidak memberi batasan baik itu laki-laki maupun perempuan. Bagi mereka hal itu sama saja, intinya mereka adalah sahabat. “Miina!” panggil seseorang di belakangnya. Iapun menoleh. Ternyata Seorinlah yang memanggilnya. “Yaa! Kau kemana saja?” gerutu Seorin. “Mianhae (maaf) aku tadi bertemu dengan Donghae jadi aku keluar sebentar untuk menyapanya!” jelasnya. “Oh, lalu di mana dia sekarang?” “Dia sudah pergi bersama teman-temannya!” “Emm ngomong-ngomong soal Donghae aku mau bicara denganmu tentang dia Miin!” “Katakan saja Seorin!” ucap Miina dengan ramah. “Ini rahasia kita berdua ya! Gyuri belum tahu tentang hal ini. Emm sebenarnya aku menyukai Donghae Miin!” Seketika itu hati Miina benar-benar seperti sedang dihantam batu besar. Lalu bagaimana dengan persahabatan mereka? Ah masalahnya bukan itu! Lebih tepatnya bagaimana dengan perasaan Minna? Ya, sebenarnya Miina juga emiliki perasaan pada Donghae. “Habisnya kuperhatikan Miinalah yang paling dekat dengan Donghae. Diantara kalian seperti tidak ada pembatas. Makannya aku menceritakan hal ini padamu, aku berharap Miina mau mendukungku!” lanjutnya. Mendengar ucapan sahabatnya itu, Miina terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Dipasanya otak untuk berfikir keras sehingga dapat menemukan jawaban terbaik, namun tak juga ia dapatkan. “Emm .. Tentu aku pasti mendukungmu!” dustanya. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin untuk mengatakan hal itu. tapi yang kini sedang dilihatnya adalah sahabatnya. Orang yang selama ini mau menerima dirinya. Mungkin dengan beginilah ia dapat berterima kasih secara tidak langsung pada sahabatnya itu. “Benarkah? Huaaa .. Miina kau benar-benar baik >< “ serunya bahagia. Miina hanya mengangguk kecewa. ‘Yeoboseyo (Halo)’ sapa Miina lewat telfon. ‘Miina ^^ “ sapa Donghae dari seberang telfon. ‘Ada apa Donghae?’ ‘Hei tunggu, kenapa suaramu lesu sekali Miin-Ah? Kau sedang sakit’” ‘Ani (Tidak) aku hanya kelelahan!’ ‘Aku mengganggumu ya?’ ‘Tidak kok! Memangnya ada apa?’ ‘Aku rindu dengan suaramu Miin! Sekarang kita jarang bertemu karena beda sekolah. Oh ya ngomong-ngomong bagaimana dengan sekolahmu sekarang?’ ‘Ehmm jujur aku lebih suka bila bersama dengan kalian! Di sekolahku yang baru ini aku belum juga mendapatkan sahabat seperti kalian! Apalagi yang sepertimu  lalu bagaimana denganmu Hae?’ ‘Yah aku menikmati sekolah baruku, tapi akan lebih menyenangkan lagi bila bisa satu sekolah bersama kalian! Terutama denganmu.’ ‘Hahaha~ memangnya apa menariknya bisa satu sekolah denganku?’ ‘Tidak ada yang menarik! Tapi sangat menyenangkan!’ Malam itu sebelum Miina masuk ke dalam alam mimpinya, pangerannya menelfon untuk memastikan keadaannya. ‘Selamat malam Miina!’ ucap Donghae sebelum menutup telfonnya. ‘Selamat malam Donghae!’ Balas Miina yang kemudian menutup telfonnya. “Miina ayo cepat bangun!” teriak amma (ibu) dari balik pintu kamar Miina. “Ne~ (iya) amma aku sudah bangun kok!” seru Miina. Sejujurnya Miina sangat berat untuk meninggalkan tempat tidurnya. Cuaca dingin dipagi ini memang sangat mendukkung untuk membuatnya tetap tinggal di kamar. Karena ini bukan hari libur ia pun memaksakan dirinya beranjak bangun. “Amma aku berangkat dulu ya!” pamitnya seraya membuka pintu rumah. Ketika akan membalikan tubuh, ia sedikit terlonjak kaget karena menemukan sosok Donghae di sana. “Anneyong (hallo) Miina!” sapanya. “Donghae? Kenapa kau ada di sini?” “Seharusnya kau jawab dulu sapaanku -___- lagipula kau lupa ya? Rumahkukan memang tak jauh dari sini!” “Eh mianhae (maaf), anneyong Donghae! Aku tahu, maksudku kenapa kau bisa ada di depan rumahku?” “Hari ini aku berangkat lewat jalan ini, karena jalan di sektorku sedang diperbaiki. Jadi sekalian saja aku mampir kesini!” “Oh begitu!” “Ya!! Dari pada kau hanya berdiri di situ kenapa tidak cepat berangkat saja!” tegur Donghae ketika melihat Miina hanya berdiam diri di depan pintu rumahnya. “Ah mianhae aku lupa! Ayo kita berangkat ^^” Ketika di jalan menuju sekolah mereka masing-masing, Miina terus menahan dingin yang begitu menusuk tubuhnya. Kedua tangan disilangkannya di dada. Donghae yang sedari tadi memperhatikannya menyadari hal itu. “Hei bodoh sudah tau cuaca begini dingin tapi kenapa kau tidak memakai syalmu hah?” “Aku lupa membawanya!” “Dasar pikun!” Donghae melepas syal yang menggantung di lehernya dan mengenakannya di leher Miina. “Ah Donghae nanti kau kedinginan!” cemas Miina. “Aku laki-laki! Masih bisa tahan!” bela Donghae. “Gomawo (terima kasih)” ucap Miina sambil tersenyum manis pada Donghae. Sesampainya di sekolah, dari kejauhan Gyuri terlihat tengah mondar-mandir seperti sedang menunggu seseorang. Ketika ia menoleh dan melihat kedatangan Miina tampak senyumannya mengembang. “Miina ^^” panggilnya. “Annyeong Gyuri! Ada apa? Sepertinya pagi ini kau terlihat senang sekali.” “Kyaaa~ iya Miin! Aku memang sedang senang >< dan aku ingin memberitahu hal ini kepadamu!” “Apa itu?” “Sebenarnya sih semalam aku berencana ingin memberitahumu soal ini lewat telfon, tapi lebih aman dan nyaman bila langsung bicara denganmu! Miina yang tahu tentang hal ini hanya kau dan aku ya. Emmm sebenarnya aku menyukai Donghae!” Deg~ Sekali lagi hati Miina seperti dihantam oleh batu besar. Dua sahabatnya menyukai orang yang sama. ‘Bagaimana ini? Aku harus mengatakan apa?’ pikirnya dalam benak. “Miin!” tegur Gyuri yang menyadarkan lamunan Miina. “Ah maaf Gyu~” “Apa yang sedang kau pikirkan?” “Tidak ada kok ^^” “Lalu menurutmu aku harus bagaimana Miin?” “Emm bagaimana ya? Sebaiknya kau harus berusaha keras untuk mendapatkannya Gyuri an jangan terlalu lama untuk menyatakan perasaanmu, nanti keburu didahului lho! Ayo kau pasti bisa ^^ “ “Kyaa~ khamsa hamnida (terimakasih) Miina ^^ aku senang memiliki sahabat sebaik dirimu!” ‘Ah bodohnya aku! aku benar-benar tridak bisa memberontak! Ya tuhan kedua sahabatku menyukai laki-laki yang juga kusukai. Bagaimana aku bisa mendukung mereka?’ rintih Miina dalam hati sambil menahan tangisnya. Ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan berusaha tersenyum di depan sahabat-sahabatnya itu, walau sebenarnya sangat sulit. Pip~ pip~pip~ Miina meraih ponsel yang ada di saku jaketnya. To : Miina \(^0^)/ From : Unyuk  Miina pulang sekolah nanti ketemuan di depan caffe Brand New Brezee ya! Ayo kita icip-icip cake baru di sana! Kali ini aku yang traktir ^^~ Miina hanya tersenyum. Lalu jari-jarinya mulai menari diatas tombol ponselnya. To : Unyuk  From : Miina \(^0^)/ Ne~ ayo kita cicipi! Miina berlalu menuju kelasnya setelah pamit dengan Gyuri. Ya, hanya Miina dan Gyuri yang berada dalam satu sekolah. Sedangkan Seorin, Eunhyuk, dan Donghae berbeda sekolah. Miina memutuskan untuk tidak memikirkan hal ini sementara waktu. Ia berharap ketika pulang sekolah nanti ia bisa bersenang-senang dengan Unyuk. Kring~ kring~kring~ Bel pulang telah berdering. Miina buru-buru meninggalkan kelas menuju gerbang sekolah. Ada dua alasan mengapa ia buru-buru meninggalkan sekolah. Alasan pertama untuk menghindari Gyuri dan kedua agar ia cepat sampai dan segera bertemu dengan Unyuk. Angin yang bertiup semakin membuat tubuhnya merinding. Ia rapatkan jaket yang ia kenakan dengan syal milik Donghae yang masih tergantung di lehernya. Dan ketika hampir sampai di caffe matanya menemukan sosok Unyuk yang terlihat tengah berdiri tegak seperti penjaga di depan caffe itu. Miinapun melambaikan tangannyadan lebih mempercepat langkahnya. “Mianhae~ kau menunggu lama ya?” seruku ketika sampai di depannya. “Aniyo~ aku juga baru sampai kok! Ayo kita masuk kedalam!” ajak Unyuk seraya membuka pintu caffe. Miina dan Unyuk masuk ke dalam caffe . Mereka menempati salah satu kursi kosong dan mulai memesan makanan. “Oh ya kenapa kau bisa tahu kalau toko ini mengeluarkan menu baru?”Miina membuka pembicaraan diantara mereka. “Haha~ akukan up2date!” jawab Unyuk riang. “Emm aku penasaran dengan pesanan kita! Winter cake? Rasanya bagaimana ya?” “Aku juga penasaran! Caffe ini memang selalu mengeluarkan manu baru bila ada momen tertentu. Sekarangkan musim dingin jadi mereka mengeluarkan menu winter cake !” jelas Unyuk dengan sedikit memperlihatkan intonasi kebanggaannya karena merasa ahli dengan hal-hal seperti ini. “Kalau begitu besok kau beralih profesi menjadi pemandu wisata kuliner saja!” ledek Miina. “Haha tarifku mahal ya! Presenter sepertiku tidak mudah untuk di cari!” “Hahaha~” tawa Miina. Disela kebersamaannya dengan Eunghyuk, tiba-tiba Miina terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu. “Miin boleh aku mengakui sesuatu?” tanya Unyuk yang terlihat sedikit ragu-ragu. “Tentu!” jawab Miina mantap. Eunhyuk meraih tangan dan menggenggam tangan Miina. “Sebenarnya .. sebenarnya aku menyukaimu Miin! Sangat menyukaimu!” “Hah? Kau? Tap .. tapika kita sahabat?” Miina sangat terkejut mendengar pengakuan dari sahabatnya itu. “Aku tahu itu! makannya aku ragu untuk mengakui hal ini padamu. Tapi bagaimanapun juga perasaan ini tidak bisa kubohongi. Semakin lama kupendam malah semakin membuatku frustasi memikirkannya!” jelas Unyuk yang semakin membuat hati Miina tidak karuan. ‘Bagaimana ini? Aku bingung! Ah tapi kedua sahabatku saja boleh egois dengan menyukai orang yang kusukai, kenapa aku tidak bisa? Tapi apa aku menyukai Unyuk? Aku sama sekali tidak merasa berdebar debar bila bersamanya hanya merasa nyaman. Berbeda dengan ketika aku sedang bersama Donghae!’ berontaknya dalam hati. “Miin!” tegur Unyuk yang membuyarkan lamunannya. “Ah mian tadi aku melamun!” “Bagaimana?” “Emm .. aku mau!” Miina mengangguk dan berusaha tersenyum pada Unyuk. Melihat dan mendengar jawaban dari orang yang disukainya, Eunhyuk tersenyum kegirangan. Dan mulai saat itulah mereka resmi berpacaran. “Donghae selamat pagi ^^ “ sapa Miina kegirangan ketika akan berangkat kesekolah bersama Donghae. “Sepertinya pagi ini kau senang sekali! Habis mendapat uang jajan tambahan ya?” “Ani~ eh kau tahu tidak? Aku kemarin resmi berpacaran dengan Eunhyuk!” Deg~ sontak pernyataan itu membuat hati Donghae merasa hancur berkeping-keping. Memang sejak awal Donghae juga memiliki perasaan yang sama dengan Miina tapi dengan alasan yang sama pula Donghae menghindari perasaan itu, yaitu karena sahabat-sahabatnya. Tapi tidak disangka olehnya ternyata selama ini kesabarannya memendam isi hatinya hanya sia-sia. Ia sudah didahului oleh sahabatya sendiri. “Hae?” panggil Miina seraya menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Donghae. Sontak Donghae tersadar dari lamunannya. “Ah chukkae Min-Ah!” Donghae tersenyum pahit sembari mengulurkan tangan untuk memberikan selamat. “Ne~ gomawo!” Miina membalas senyuman Donghae. Donghae terus memperhatikan tingkah Miina disepanjang jalan, ia terlihat ceria. ‘Sepertinya dia bahagia!’ pikirnya. “Miina >< “ sapa Gyuri ketika melihat sahabatnya itu tiba di sekolah. “Annyeong Gyuri! Ada apa?” “Ya! Aku sudah denbgar kabarmu dengan Eunhyuk! Kenapa kau tidak mengabariku ha?” protes Gyuri seraya melipat kedua tangan di dadanya. “Mianhae Gyuri aku tidak ingin mengumbar-ngumbar hal seperti ini!” “Haha~ bercanda kok! Chukkae Miina aku harap kau bahagia with our monkey ok?” Gyuri memeluk sahabatnya itu. “Ne~ aku juga berharap!” Miina memaksakan senyumnya. “Gyuri sekarang giliranmu!” Miina kembali berbicara. “Giliran untuk apa?” “Giliran untuk menyatakan perasaanmu pada Donghae!” “Tapi aku belum siap Miin >< “ “Mau sampai kapan kau pendam perasaanmu itu? kalau tidak dikatakan mana dia tahu perasaanmu? Yang terpenting kau ungkapkan saja perasaanmu, bagaimana responnya itu belakangan saja!” Miina berusaha memberi dorongan pada Gyuri. “Khamsa hamnida Miina! Aku akan berjuang ^^ “ Miina meraih tangan Gyuri dan menggandengnya. Diayun-ayunkannya kedua tangan sepasang sahabat itu seraya saling tersenyum. Ketika akan pulang sekolah, tiba-tiba ponsel Miina berbunyi. “Ahh~ untung kelas telas berakhir!” Miina menjawab telefon itu. “Yeoboseyo! (hallo) “ sapa Miina. “Yaaa Miina kata Gyuri kau jadian dengan Unyuk ya?” cerocos Seorin diseberang telfon. “Ne Seorin!” “Wah kita semua harus ketemuan untuk merayakan ini!” “Tidak usah ah!” Miina menolak. “Ani~ kita harus merayakannya!” Seorin tetap memaksa. “Yasudah! Memang kapan?” “Sekarang >< nanti yang lain biar kutelfon! Kita ketemuan di caffe biasa ya!” Akhirnya Miinapun menuruti permintaan sahabatnya itu. Miina mulai berjalan meninggalkan sekolah menuju ceffe . Dan ketika sampai di caffe itu terlihat Unyuk dan Seorin telah menunggu. Keduanya melambaikan tangan pada Miina. “Loh Gyuri mana? Bukankah dia seharusnya sudah sampai lebih dulu dariku?” tanya Miina yang keheranan mwlihat sahabatnya belum tiba padahal Gyuri sudah pergi lebih dulu. Merekapun memperhatikan sekitar. “Itu Gyuri dan Donghae!” seru Unyuk sambil menunjuk kearah pandangnya. “Tapi sedang apa mereka? Kenapa malah berdiri saja disana?” lanjut Unyuk. “Ayo kita kesana dan kejutkan mereka!” dengan semangat Seorin menarik kedua tangan sahabatnya hingga lebih dekat dengan Donghae dan Gyuri. “Hae sebenarnya aku menyukaimu!” Itulah kalimat yang diucapkan oleh Gyuri dan didengar oleh ketiga sahabatnya ketika berada lebih dekat. Mendengar kalimat itu genggaman tangan Seorin terlepas dan langkah mereka terhenti. Saat itu Donghae juga melihat Miina di sana dan kedua mata mereka bertemu. “Gyuri mianhae .. mianhae aku tidak bisa!” ucap Donghae dengan tetap menatap Miina. “Aku .. menyukai gadis lain!” lanjutnya, namun kali ini ia lebih gugup karena perkataannya disaksikan oleh sahabat-sahabatnya. Melihat Donghae yang sedang tidak menatapnya, Gyuri pun menoleh untuk mengikuti arah pandangannya. Dan arah pandangannya tertuju pada Miina. Semuanyapun menoleh pada Miina, termasuk Eunhyuk. Miina sangat terkejut, ia bingung harus berkata apa. Dengan cepat ia membalikan tubuh dan berlari menjauh. “Apa-apaan aku ini? Kenapa aku malah lari? Bodoh! Aku malah lari dari masalah! Tapi aku sudah tidak punya muka untuk kembali lagi kesana! Bagaimana ini?’ rutuknya dalam hati. Brrruuuukkkk! “Awww!” rintihnya. Tubuhnya terjatuh karena kakinya tersandung. ‘Bodoh! Pakai terjatuh segala! Aku malu untuk bangun -_- pasti sekarang orang-orang sedang memperhatikanku!’ desisnya. Tiba-tiba ada seseorang yang mengangkat tubuh Miina. “Bodoh! Kenapa malah meringkup di jalanan seperti itu? bukannya bangun dan berdiri!” “Dong .. donghae!” gumamnya pelan sekaligus terkejut. Donghae tersenyum manis pada Miina. Ia menghapus air mata Miina dan membersihkan baju yang Miina yang kotor karena terjatuh tadi. “Ayo kita kembali!” Donghae menundukan tubuhnya seraya memberi isyarat pada Miina untuk naik kepunggungnya. “Aku sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan mereka!” Miina ragu dalam mengucapkan kalimat itu pada Donghae. “Selama bersamaku semuanya akan baik-baik saja Miin-Ah!” ‘Miin-Ah! Aku selalu senang setiap kali Donghae memanggilku dengan nama itu. Cantik! Itulah artinya!’ pikirnya. Memang selama Miina berada di sisi Donghae ia akan merasa tenang dan aman. Lalu Miina pun naik ke punggung Donghae. Digendongnya Miina sampai di caffe yang menjadi tujuan awal mereka. Ketika hampir sampai, Miina mengintip dari balik bahu Donghae. Betapa terkejutnnya Miina, ia melihat Seorin, Eunhyuk, dan Gyuri melambai-lambaikan tangan dan tersenyum padanya. “Yaaaaa Miina kenapa tadi kau malah lari hah? Kitakan belum merayakan hari jadimu dengan Donghae!” cerocos Seorin kembali. Miina terkejut sekaligus bingung dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya itu. “Chukkae Miina! Pokoknya kau haru baik-baik dengannya ya!” seru Gyuri seraya mengacak-acak rambut Miina yang sedari tadi masih di gendong oleh Donghae. Miina hanya menangis melihat perlakuan sahabat-sahabatnya. Bukan tangis sedih namun tangis haru. Selama ini ia terus menyimpan perasaannya karena takut sahabatnya marah bila mereka mengetahui hal yang sebenarnya. Namun ternyata semua itu berbeda dari bayangannya selama ini. “Khamsa hamnida teman-teman!” ucapnya lembut. Backscane Miina sangat terkejut, ia bingung harus berkata apa. Dengan cepat ia membalikan tubuh dan berlari menjauh. “Miina!” teriak Eunhyuk. “Kenapa aku jahat sekali? Aku sampai tidak menyadari kalau selama ini ia juga menyukai orang yang sama.” Ucap Gyuri dengan nada menyesalnya yang membuat Seorin menoleh. “Aku .. aku juga sama sepertimu!” gumam Seorin pelan namun masih dapat didengar oleh yang lain. Mendengar perkataan dua gadis itu Eunhyuk langsung membuka mulut. “Donghae kejar dia! Dia sekarang sedang membutuhkanmu! Tolong jaga dia baik-baik.” Mendengar pernyataan dari Eunhyuk, Donghae langsung berlari secepat mungkin untuk mengejar gadis yang sangat dicintainya. SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar