Sabtu, 04 Februari 2012

Our - Story

Part 1 (Introduction/perkenalan)
“Woy Di tsangkep bolanya!!” teriak Aras. Dengan sigap Aldi menangkap bolanya. Tangannya dengan indah mendrible bola kearah ring. Sorakan meriah terdengar jelas diseluruh ruangan ketika sekali lagi Aldi mencetak poin untuk teamnya. Dan akhirnya fluit pun dibunyikan tanda bahwa pertandingan telah usai. Score akhirnya 22-24 dimenangkan oleh team Aldi, hanya beda tipis. Pertandingan kali ini memang diadakan disekolah Aldi, oleh karena itu ia lebih unggul dalam menguasai lapangan. “Kerja bagus Di!” puji Aras yang tak lain adalah ketua team basket. Tawa kemenangan terlintas diwajah mereka. Setelah usai bersorak-sorai dengan kemenangan yang mereka peroleh, Aldi memutuskan untuk pergi kebelakang stadion untuk mencuci wajahnya di washtafle. Sebuah handuk kecil ia kalungkan pada lehernya. Air mulai ia alirkan. Dari arah samping ada beberapa gadis datang menghampirinya. “Uaaaa kak Aldi tadi keren banget sih >.<” teriak salah satu diantaranya. Gadis-gadis itu adalah adik kelasnya. Di sekolah Aldi cukup populer. Tidak hanya karena pintar bermain basket, namun wajahnya pun cukup membuat para gadis ingin mendekatinya. Selain tampan, Aldi juga termasuk kelas atas. Penampilannya selalu ia jaga. “Hehe biasa aja kok! Makasih udah ngedukung ya.” Ucap Aldi pada gadis-gadis itu. Ia memperlihatkan senyuman termanisnya. Ini adalah salah satu kebiasaan Aldi, yaitu selalu menggoda gadis-gadis yang ada disekitarnya. “Iya sama-sama kak >///<” gadis-gadis itu pun meninggalkan aldi sendirian karena takut mengganggunya. Setelah mereka pergi, terdengarlah sebuah suara yang menegurnya. “Udah selesai ngegombalnya?” Sontak Aldi menoleh. Ternyata Fitri lah yang menegurnya. Fitri yang sedari tadi berdiri bersandar pada dinding seraya menyilangkan tangan pada dadanya pun mulai mendekati Aldi. “Oh honey tadi kamu disitu ya?” “Kenapa emang? Takut ketauan?” timpal Fitri. “Ah nggak kok! Oh ya gimana tadi aku keren kan?” tanya-nya semangat. “Nggak! Siapa bilang keren?” “Lah nggak? Eh tadi tuh aku udah berusaha buat tampil secakep mungkin tau -_-“ “Emang jelek kok!” “Puji dikitlah!” tuntut Aldi. “Ke Paris dulu baru ntar aku puji >.<” Fitri balas menuntut. “Sabar dong, tau lah akukan orang sibuk!” “Ah gembel lo!” Fitri menjulurkan lidahnya. Fitri adalah kekasih Aldi. Ia sangat periang. Rambutnya selalu terurai panjang. Keinginannya dari dulu adalah dapat pergi ke Paris. Pernah suatu ketika Aldi menjajikan pada Fitri akan mengajaknya pergi ke Paris, dan sejak saat itulah ia selalu menagih janji Aldi. Kedua orang itu pun kembali ke sekolahnya. Ketika tengah melewati koridor mereka berpapasan dengan Tya teman sekelas Fitri. Seperti biasa Tya selalu membawa dan membaca komik dimanapun dan kapanpun. Satu hal yang dibencinya yaitu melihat orang kaya yang sombong dan selalu membeda-bedakan orang lain dengannya. Oleh karenanya Tya cukup membenci Aldi. Dimatanya Aldi sama saja dengan orang kaya lainnya, sombong. “Tya!” sapa Fitri. “Oh ya?” komik yang sedari tadi menutupi wajahnya sedikit ia turunkan agar dapat melihat siapa yang memanggilnya. “Sendirian aja!” Aldi mulai menggoda. “Lo bawa peliharaan Fit?” sindir Tya. “Ye nyebelin! Jarang-jarang orang kayak lo digodain cowok cakep kayak gue!” protes Aldi. “Diatas langit masih ada langit ya, muka lo sejajar sama pemulung disebelah rumah gue!” hardik Tya. “Gue disamain sama pemulung lagi -_- , rumah lo dipemukiman mana sih? Sampe ngebedain muka prince sama pemulung!” balasnya tak mau kalah. “Ih udah ah jangan pada berantem!” Fitri menengahi. “Habisnya honey dia ngeselin banget!” sergah Aldi manja pada Fitri. “Udah-udah kita balik ke kelas aja, Ty sorry ya!” Fitri menarik paksa tangan Aldi. Ketika sampai di tangga, Aldi dan Fitri berpisah. Fitri memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sedangkan Aldi memilih untuk pergi ke kelas. “Vit, gue minjem pr MTK dong!” ketika sampai dikelas Aldi langsung menghampiri Novita yang sedari tadi sibuk online dengan HP-nya. “Lo udah kelar tanding?” Ucap Novita namun masih tetap fokus pada HP-nya. “Yoi!” bangga Aldi. “Menang lo?” “Iya dong! Eh udah ah mana buku MTK lo?” pinta Aldi. “Emang ada pr ya?” ucap Novita dengan santainya. “Idih alah lo gak tau? Gue aja yang sibuk mondar-mandir sana-sini tau elo yang tiap hari kerjaannya online masa gak tau?” “Bawel ah, gue lagi sibuk nih! Lagian tinggal dua pelajaran lagi udah ngapain sih ngerjain? Nyantai aja kali. Cowok kok rempong banget -_-“ “Hahaha dasar nyai, gue emang demen sama gaya lo! Life is easy.” Novita adalah teman sekelas Aldi. Ia sebenarnya adalah murid yang pintar, pikirannya pun selalu nalar. Selalu berfikir menggunakan logika, dan bila ada hal yang menurutnya tidak rasional ia tak segan-segan untuk memprotes. Dua hal kelemahannya yaitu malas dan David. David adalah ketua klub sains yang ada disekolahnya dan Novita sangat menyukainya. “Eh Di, style lo hari ini gak banget sih!” tiba-tiba dari arah samping ada yang datang menghampiri Aldi dan Novita. “Hah? Beneran Da?” seketika Aldi pun langsung memperhatikan penampilannya. “Beneran! Apaan tuh sepatu lo warna sama motifnya jelek!” Aida yang juga teman satu kelas Aldi menunjuk ke arah bawah yaitu kearah sepatu Aldi. “Da lo mending jadi penasehat style pribadinya Aldi aja deh!” sergah Novita tiba-tiba. “Gak elit ah!” “Ye hahahaha” Mereka bertiga pun saling meledek satu sama lain, namun hanya sebagai bahan untuk bercanda. Dan ditempat lain, tepatnya diruang musik beberapa murid laki-laki asyik memainkan alat musik kesayangan mereka masing-masing tak terkecuali Kevin. Kevin adalah vocalis klub band yang ada di sekolahnya. Di sekolah ia dijuluki playboy karena sering menggoda gadis-gadis. Sifatnya tak beda jauh dengan Aldi karena memang ia juga adalah sahabat baik Aldi. Dan tentu saja wajahnya tak kalah tampan dengan Aldi juga kelas atas adalah lingkungannya di keluarga. “Dari pada kalian ngelakuin hal yang gak berguna kayak gini mending kalian tuh belajar kayak David tuh di ruang sebelah! Kamu juga Vin, sudah dibilang jangan pakai kaos disekolah, tapi tetep aja ngeyel! Bikin peraturan sendiri?” pak Supadi mulai mengoceh pada Kevin dan teman-temannya karena merasa terganggu dengan rutinitas mereka. Saat itu pak Supadi memang sedang membantu David mengerjakan proyek sains nya di lab, dan letak ruang lab memang berhadapan dengan ruang musik. Sepanjang ocehan Kevin hanya menunduk diam, ia menunduk bukan karena menyesal namun karena malas mencari masalah. “Eh Vin, tadi si Dilla lewat tuh!” bisik teman di samping Kevin. “Serius? Mana? Pak saya pergi dulu ya! Mama saya nelp—“ belum usai bicara Kevin langsung pergi berlari meninggalkan ruang musik. “Heh kevin! KEVIN!” teriak pak Supadi. Kevin terus berlari mengejar Dilla. Dilla adalah ketua klub teater di sekolahnya. Gadis ini yang selalu di kejar-kejar oleh Kevin. Kepribadiannya yang sopan dan ramah lah yang membuat Kevin selalu menginginkannya. Selain itu Dilla sangat jago dalam hal mengingat. “DILLA!” panggil Kevin yang sedari tadi berusaha mengejar Dilla. Sontak Dilla pun berhenti dan menoleh. “Ya?” jawab Dilla kebingungan dengan sikap Kevin. “Hhh .. hh .. ntar .. ntar pulang sekolah mau gak ngajarin gue teater sebentar? Ada tugas seni budaya gue!” ucapnya ter engah-engah seraya mengatur nafas. “Oh haha, segitunya Vin! Iya ntar gue ajarin.” Dilla tertawa kecil. “Hehe makasih ya!” Setelah pamit, Dilla pun meneruskan untuk berjalan kembali. “YESSS! Dapet gue hahaha!”girangnya. Ketika melewati ruang OSIS Dilla sempat terhenti. Iya pun masuk kedalam dan menghampiri Eza. Eza adalah ketua OSIS disekolahnya. “Za, hari ini ada rapat gak?” tanya Dilla tiba-tiba. “Hari ini kita break dulu! Masalah kemarin kita bicarain di rapat besok aja!” “Oh ok!” Eza adalah ketua OSIS yang kutu buku dan pintar. Sangat berwibawa dan selalu mengedepankan kedisiplinan. Terkadang juga ia sering menegur Kevin dan kawan-kawan satu band nya, namun ia selalu diabaikan. Satu hal kelemahan Eza, ia anti dengan wanita. Ia selalu berfikir bahwa wanita itu hanya akan menyusahkannya. Hanya bisa bersikap manja dan tidak pernah berfikir tentang resiko yang mereka ambil. Dan dimulailah kisah-kisah mereka ..

I Love u, not him!

Sebenarnya agak-agak ya gue ngepost cerita ini karna udah lumayan lama juga tersimpan rapi dilaptop hehe tapi no problah dari pada gak pernah ngepost! silahkan dibaca :)
“Hai Donghae!” sapa Miina dari kejauhan ketika melihat sahabatnya itu tengah berjalan bersama teman-teman baru di sekolahnya. Dilihatnya Donghae tersenyum dan melambaikan tangannya. Miina pun mendekatinya. “Ingin pergi kemana kau?” tanya Minna. “Hanya ingin jalan-jalan! Kau?” tanya Donghae kembali. “Aku tadi sedang menemani Seorin!” “Loh dia sekarang dimana?” “Masih di dalam toko sedang memilih-milih baju! Aku malas menunggu di dalam, terlalu ramai -___- “ jelasnya dengan memperlihatkan wajah malasnya. “Oh haha yasudah kalau begitu aku duluan ya, tidak enak membuat yang lain menunggu!” pamit Donghae. “OK!” Miina pun melambaikan tangan padanya. Miina terus tersenyum memperhatikan punggungnya yang semakin menghilang dari pandangannya. Dia semakin dewasa! Mereka, yaitu Miina, Donghae, Seorin, Eunhyuk, dan Gyuri adalah sahabat baik. Karena terlalu dekat merekapun tidak memberi batasan baik itu laki-laki maupun perempuan. Bagi mereka hal itu sama saja, intinya mereka adalah sahabat. “Miina!” panggil seseorang di belakangnya. Iapun menoleh. Ternyata Seorinlah yang memanggilnya. “Yaa! Kau kemana saja?” gerutu Seorin. “Mianhae (maaf) aku tadi bertemu dengan Donghae jadi aku keluar sebentar untuk menyapanya!” jelasnya. “Oh, lalu di mana dia sekarang?” “Dia sudah pergi bersama teman-temannya!” “Emm ngomong-ngomong soal Donghae aku mau bicara denganmu tentang dia Miin!” “Katakan saja Seorin!” ucap Miina dengan ramah. “Ini rahasia kita berdua ya! Gyuri belum tahu tentang hal ini. Emm sebenarnya aku menyukai Donghae Miin!” Seketika itu hati Miina benar-benar seperti sedang dihantam batu besar. Lalu bagaimana dengan persahabatan mereka? Ah masalahnya bukan itu! Lebih tepatnya bagaimana dengan perasaan Minna? Ya, sebenarnya Miina juga emiliki perasaan pada Donghae. “Habisnya kuperhatikan Miinalah yang paling dekat dengan Donghae. Diantara kalian seperti tidak ada pembatas. Makannya aku menceritakan hal ini padamu, aku berharap Miina mau mendukungku!” lanjutnya. Mendengar ucapan sahabatnya itu, Miina terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Dipasanya otak untuk berfikir keras sehingga dapat menemukan jawaban terbaik, namun tak juga ia dapatkan. “Emm .. Tentu aku pasti mendukungmu!” dustanya. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin untuk mengatakan hal itu. tapi yang kini sedang dilihatnya adalah sahabatnya. Orang yang selama ini mau menerima dirinya. Mungkin dengan beginilah ia dapat berterima kasih secara tidak langsung pada sahabatnya itu. “Benarkah? Huaaa .. Miina kau benar-benar baik >< “ serunya bahagia. Miina hanya mengangguk kecewa. ‘Yeoboseyo (Halo)’ sapa Miina lewat telfon. ‘Miina ^^ “ sapa Donghae dari seberang telfon. ‘Ada apa Donghae?’ ‘Hei tunggu, kenapa suaramu lesu sekali Miin-Ah? Kau sedang sakit’” ‘Ani (Tidak) aku hanya kelelahan!’ ‘Aku mengganggumu ya?’ ‘Tidak kok! Memangnya ada apa?’ ‘Aku rindu dengan suaramu Miin! Sekarang kita jarang bertemu karena beda sekolah. Oh ya ngomong-ngomong bagaimana dengan sekolahmu sekarang?’ ‘Ehmm jujur aku lebih suka bila bersama dengan kalian! Di sekolahku yang baru ini aku belum juga mendapatkan sahabat seperti kalian! Apalagi yang sepertimu  lalu bagaimana denganmu Hae?’ ‘Yah aku menikmati sekolah baruku, tapi akan lebih menyenangkan lagi bila bisa satu sekolah bersama kalian! Terutama denganmu.’ ‘Hahaha~ memangnya apa menariknya bisa satu sekolah denganku?’ ‘Tidak ada yang menarik! Tapi sangat menyenangkan!’ Malam itu sebelum Miina masuk ke dalam alam mimpinya, pangerannya menelfon untuk memastikan keadaannya. ‘Selamat malam Miina!’ ucap Donghae sebelum menutup telfonnya. ‘Selamat malam Donghae!’ Balas Miina yang kemudian menutup telfonnya. “Miina ayo cepat bangun!” teriak amma (ibu) dari balik pintu kamar Miina. “Ne~ (iya) amma aku sudah bangun kok!” seru Miina. Sejujurnya Miina sangat berat untuk meninggalkan tempat tidurnya. Cuaca dingin dipagi ini memang sangat mendukkung untuk membuatnya tetap tinggal di kamar. Karena ini bukan hari libur ia pun memaksakan dirinya beranjak bangun. “Amma aku berangkat dulu ya!” pamitnya seraya membuka pintu rumah. Ketika akan membalikan tubuh, ia sedikit terlonjak kaget karena menemukan sosok Donghae di sana. “Anneyong (hallo) Miina!” sapanya. “Donghae? Kenapa kau ada di sini?” “Seharusnya kau jawab dulu sapaanku -___- lagipula kau lupa ya? Rumahkukan memang tak jauh dari sini!” “Eh mianhae (maaf), anneyong Donghae! Aku tahu, maksudku kenapa kau bisa ada di depan rumahku?” “Hari ini aku berangkat lewat jalan ini, karena jalan di sektorku sedang diperbaiki. Jadi sekalian saja aku mampir kesini!” “Oh begitu!” “Ya!! Dari pada kau hanya berdiri di situ kenapa tidak cepat berangkat saja!” tegur Donghae ketika melihat Miina hanya berdiam diri di depan pintu rumahnya. “Ah mianhae aku lupa! Ayo kita berangkat ^^” Ketika di jalan menuju sekolah mereka masing-masing, Miina terus menahan dingin yang begitu menusuk tubuhnya. Kedua tangan disilangkannya di dada. Donghae yang sedari tadi memperhatikannya menyadari hal itu. “Hei bodoh sudah tau cuaca begini dingin tapi kenapa kau tidak memakai syalmu hah?” “Aku lupa membawanya!” “Dasar pikun!” Donghae melepas syal yang menggantung di lehernya dan mengenakannya di leher Miina. “Ah Donghae nanti kau kedinginan!” cemas Miina. “Aku laki-laki! Masih bisa tahan!” bela Donghae. “Gomawo (terima kasih)” ucap Miina sambil tersenyum manis pada Donghae. Sesampainya di sekolah, dari kejauhan Gyuri terlihat tengah mondar-mandir seperti sedang menunggu seseorang. Ketika ia menoleh dan melihat kedatangan Miina tampak senyumannya mengembang. “Miina ^^” panggilnya. “Annyeong Gyuri! Ada apa? Sepertinya pagi ini kau terlihat senang sekali.” “Kyaaa~ iya Miin! Aku memang sedang senang >< dan aku ingin memberitahu hal ini kepadamu!” “Apa itu?” “Sebenarnya sih semalam aku berencana ingin memberitahumu soal ini lewat telfon, tapi lebih aman dan nyaman bila langsung bicara denganmu! Miina yang tahu tentang hal ini hanya kau dan aku ya. Emmm sebenarnya aku menyukai Donghae!” Deg~ Sekali lagi hati Miina seperti dihantam oleh batu besar. Dua sahabatnya menyukai orang yang sama. ‘Bagaimana ini? Aku harus mengatakan apa?’ pikirnya dalam benak. “Miin!” tegur Gyuri yang menyadarkan lamunan Miina. “Ah maaf Gyu~” “Apa yang sedang kau pikirkan?” “Tidak ada kok ^^” “Lalu menurutmu aku harus bagaimana Miin?” “Emm bagaimana ya? Sebaiknya kau harus berusaha keras untuk mendapatkannya Gyuri an jangan terlalu lama untuk menyatakan perasaanmu, nanti keburu didahului lho! Ayo kau pasti bisa ^^ “ “Kyaa~ khamsa hamnida (terimakasih) Miina ^^ aku senang memiliki sahabat sebaik dirimu!” ‘Ah bodohnya aku! aku benar-benar tridak bisa memberontak! Ya tuhan kedua sahabatku menyukai laki-laki yang juga kusukai. Bagaimana aku bisa mendukung mereka?’ rintih Miina dalam hati sambil menahan tangisnya. Ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan berusaha tersenyum di depan sahabat-sahabatnya itu, walau sebenarnya sangat sulit. Pip~ pip~pip~ Miina meraih ponsel yang ada di saku jaketnya. To : Miina \(^0^)/ From : Unyuk  Miina pulang sekolah nanti ketemuan di depan caffe Brand New Brezee ya! Ayo kita icip-icip cake baru di sana! Kali ini aku yang traktir ^^~ Miina hanya tersenyum. Lalu jari-jarinya mulai menari diatas tombol ponselnya. To : Unyuk  From : Miina \(^0^)/ Ne~ ayo kita cicipi! Miina berlalu menuju kelasnya setelah pamit dengan Gyuri. Ya, hanya Miina dan Gyuri yang berada dalam satu sekolah. Sedangkan Seorin, Eunhyuk, dan Donghae berbeda sekolah. Miina memutuskan untuk tidak memikirkan hal ini sementara waktu. Ia berharap ketika pulang sekolah nanti ia bisa bersenang-senang dengan Unyuk. Kring~ kring~kring~ Bel pulang telah berdering. Miina buru-buru meninggalkan kelas menuju gerbang sekolah. Ada dua alasan mengapa ia buru-buru meninggalkan sekolah. Alasan pertama untuk menghindari Gyuri dan kedua agar ia cepat sampai dan segera bertemu dengan Unyuk. Angin yang bertiup semakin membuat tubuhnya merinding. Ia rapatkan jaket yang ia kenakan dengan syal milik Donghae yang masih tergantung di lehernya. Dan ketika hampir sampai di caffe matanya menemukan sosok Unyuk yang terlihat tengah berdiri tegak seperti penjaga di depan caffe itu. Miinapun melambaikan tangannyadan lebih mempercepat langkahnya. “Mianhae~ kau menunggu lama ya?” seruku ketika sampai di depannya. “Aniyo~ aku juga baru sampai kok! Ayo kita masuk kedalam!” ajak Unyuk seraya membuka pintu caffe. Miina dan Unyuk masuk ke dalam caffe . Mereka menempati salah satu kursi kosong dan mulai memesan makanan. “Oh ya kenapa kau bisa tahu kalau toko ini mengeluarkan menu baru?”Miina membuka pembicaraan diantara mereka. “Haha~ akukan up2date!” jawab Unyuk riang. “Emm aku penasaran dengan pesanan kita! Winter cake? Rasanya bagaimana ya?” “Aku juga penasaran! Caffe ini memang selalu mengeluarkan manu baru bila ada momen tertentu. Sekarangkan musim dingin jadi mereka mengeluarkan menu winter cake !” jelas Unyuk dengan sedikit memperlihatkan intonasi kebanggaannya karena merasa ahli dengan hal-hal seperti ini. “Kalau begitu besok kau beralih profesi menjadi pemandu wisata kuliner saja!” ledek Miina. “Haha tarifku mahal ya! Presenter sepertiku tidak mudah untuk di cari!” “Hahaha~” tawa Miina. Disela kebersamaannya dengan Eunghyuk, tiba-tiba Miina terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu. “Miin boleh aku mengakui sesuatu?” tanya Unyuk yang terlihat sedikit ragu-ragu. “Tentu!” jawab Miina mantap. Eunhyuk meraih tangan dan menggenggam tangan Miina. “Sebenarnya .. sebenarnya aku menyukaimu Miin! Sangat menyukaimu!” “Hah? Kau? Tap .. tapika kita sahabat?” Miina sangat terkejut mendengar pengakuan dari sahabatnya itu. “Aku tahu itu! makannya aku ragu untuk mengakui hal ini padamu. Tapi bagaimanapun juga perasaan ini tidak bisa kubohongi. Semakin lama kupendam malah semakin membuatku frustasi memikirkannya!” jelas Unyuk yang semakin membuat hati Miina tidak karuan. ‘Bagaimana ini? Aku bingung! Ah tapi kedua sahabatku saja boleh egois dengan menyukai orang yang kusukai, kenapa aku tidak bisa? Tapi apa aku menyukai Unyuk? Aku sama sekali tidak merasa berdebar debar bila bersamanya hanya merasa nyaman. Berbeda dengan ketika aku sedang bersama Donghae!’ berontaknya dalam hati. “Miin!” tegur Unyuk yang membuyarkan lamunannya. “Ah mian tadi aku melamun!” “Bagaimana?” “Emm .. aku mau!” Miina mengangguk dan berusaha tersenyum pada Unyuk. Melihat dan mendengar jawaban dari orang yang disukainya, Eunhyuk tersenyum kegirangan. Dan mulai saat itulah mereka resmi berpacaran. “Donghae selamat pagi ^^ “ sapa Miina kegirangan ketika akan berangkat kesekolah bersama Donghae. “Sepertinya pagi ini kau senang sekali! Habis mendapat uang jajan tambahan ya?” “Ani~ eh kau tahu tidak? Aku kemarin resmi berpacaran dengan Eunhyuk!” Deg~ sontak pernyataan itu membuat hati Donghae merasa hancur berkeping-keping. Memang sejak awal Donghae juga memiliki perasaan yang sama dengan Miina tapi dengan alasan yang sama pula Donghae menghindari perasaan itu, yaitu karena sahabat-sahabatnya. Tapi tidak disangka olehnya ternyata selama ini kesabarannya memendam isi hatinya hanya sia-sia. Ia sudah didahului oleh sahabatya sendiri. “Hae?” panggil Miina seraya menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Donghae. Sontak Donghae tersadar dari lamunannya. “Ah chukkae Min-Ah!” Donghae tersenyum pahit sembari mengulurkan tangan untuk memberikan selamat. “Ne~ gomawo!” Miina membalas senyuman Donghae. Donghae terus memperhatikan tingkah Miina disepanjang jalan, ia terlihat ceria. ‘Sepertinya dia bahagia!’ pikirnya. “Miina >< “ sapa Gyuri ketika melihat sahabatnya itu tiba di sekolah. “Annyeong Gyuri! Ada apa?” “Ya! Aku sudah denbgar kabarmu dengan Eunhyuk! Kenapa kau tidak mengabariku ha?” protes Gyuri seraya melipat kedua tangan di dadanya. “Mianhae Gyuri aku tidak ingin mengumbar-ngumbar hal seperti ini!” “Haha~ bercanda kok! Chukkae Miina aku harap kau bahagia with our monkey ok?” Gyuri memeluk sahabatnya itu. “Ne~ aku juga berharap!” Miina memaksakan senyumnya. “Gyuri sekarang giliranmu!” Miina kembali berbicara. “Giliran untuk apa?” “Giliran untuk menyatakan perasaanmu pada Donghae!” “Tapi aku belum siap Miin >< “ “Mau sampai kapan kau pendam perasaanmu itu? kalau tidak dikatakan mana dia tahu perasaanmu? Yang terpenting kau ungkapkan saja perasaanmu, bagaimana responnya itu belakangan saja!” Miina berusaha memberi dorongan pada Gyuri. “Khamsa hamnida Miina! Aku akan berjuang ^^ “ Miina meraih tangan Gyuri dan menggandengnya. Diayun-ayunkannya kedua tangan sepasang sahabat itu seraya saling tersenyum. Ketika akan pulang sekolah, tiba-tiba ponsel Miina berbunyi. “Ahh~ untung kelas telas berakhir!” Miina menjawab telefon itu. “Yeoboseyo! (hallo) “ sapa Miina. “Yaaa Miina kata Gyuri kau jadian dengan Unyuk ya?” cerocos Seorin diseberang telfon. “Ne Seorin!” “Wah kita semua harus ketemuan untuk merayakan ini!” “Tidak usah ah!” Miina menolak. “Ani~ kita harus merayakannya!” Seorin tetap memaksa. “Yasudah! Memang kapan?” “Sekarang >< nanti yang lain biar kutelfon! Kita ketemuan di caffe biasa ya!” Akhirnya Miinapun menuruti permintaan sahabatnya itu. Miina mulai berjalan meninggalkan sekolah menuju ceffe . Dan ketika sampai di caffe itu terlihat Unyuk dan Seorin telah menunggu. Keduanya melambaikan tangan pada Miina. “Loh Gyuri mana? Bukankah dia seharusnya sudah sampai lebih dulu dariku?” tanya Miina yang keheranan mwlihat sahabatnya belum tiba padahal Gyuri sudah pergi lebih dulu. Merekapun memperhatikan sekitar. “Itu Gyuri dan Donghae!” seru Unyuk sambil menunjuk kearah pandangnya. “Tapi sedang apa mereka? Kenapa malah berdiri saja disana?” lanjut Unyuk. “Ayo kita kesana dan kejutkan mereka!” dengan semangat Seorin menarik kedua tangan sahabatnya hingga lebih dekat dengan Donghae dan Gyuri. “Hae sebenarnya aku menyukaimu!” Itulah kalimat yang diucapkan oleh Gyuri dan didengar oleh ketiga sahabatnya ketika berada lebih dekat. Mendengar kalimat itu genggaman tangan Seorin terlepas dan langkah mereka terhenti. Saat itu Donghae juga melihat Miina di sana dan kedua mata mereka bertemu. “Gyuri mianhae .. mianhae aku tidak bisa!” ucap Donghae dengan tetap menatap Miina. “Aku .. menyukai gadis lain!” lanjutnya, namun kali ini ia lebih gugup karena perkataannya disaksikan oleh sahabat-sahabatnya. Melihat Donghae yang sedang tidak menatapnya, Gyuri pun menoleh untuk mengikuti arah pandangannya. Dan arah pandangannya tertuju pada Miina. Semuanyapun menoleh pada Miina, termasuk Eunhyuk. Miina sangat terkejut, ia bingung harus berkata apa. Dengan cepat ia membalikan tubuh dan berlari menjauh. “Apa-apaan aku ini? Kenapa aku malah lari? Bodoh! Aku malah lari dari masalah! Tapi aku sudah tidak punya muka untuk kembali lagi kesana! Bagaimana ini?’ rutuknya dalam hati. Brrruuuukkkk! “Awww!” rintihnya. Tubuhnya terjatuh karena kakinya tersandung. ‘Bodoh! Pakai terjatuh segala! Aku malu untuk bangun -_- pasti sekarang orang-orang sedang memperhatikanku!’ desisnya. Tiba-tiba ada seseorang yang mengangkat tubuh Miina. “Bodoh! Kenapa malah meringkup di jalanan seperti itu? bukannya bangun dan berdiri!” “Dong .. donghae!” gumamnya pelan sekaligus terkejut. Donghae tersenyum manis pada Miina. Ia menghapus air mata Miina dan membersihkan baju yang Miina yang kotor karena terjatuh tadi. “Ayo kita kembali!” Donghae menundukan tubuhnya seraya memberi isyarat pada Miina untuk naik kepunggungnya. “Aku sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan mereka!” Miina ragu dalam mengucapkan kalimat itu pada Donghae. “Selama bersamaku semuanya akan baik-baik saja Miin-Ah!” ‘Miin-Ah! Aku selalu senang setiap kali Donghae memanggilku dengan nama itu. Cantik! Itulah artinya!’ pikirnya. Memang selama Miina berada di sisi Donghae ia akan merasa tenang dan aman. Lalu Miina pun naik ke punggung Donghae. Digendongnya Miina sampai di caffe yang menjadi tujuan awal mereka. Ketika hampir sampai, Miina mengintip dari balik bahu Donghae. Betapa terkejutnnya Miina, ia melihat Seorin, Eunhyuk, dan Gyuri melambai-lambaikan tangan dan tersenyum padanya. “Yaaaaa Miina kenapa tadi kau malah lari hah? Kitakan belum merayakan hari jadimu dengan Donghae!” cerocos Seorin kembali. Miina terkejut sekaligus bingung dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya itu. “Chukkae Miina! Pokoknya kau haru baik-baik dengannya ya!” seru Gyuri seraya mengacak-acak rambut Miina yang sedari tadi masih di gendong oleh Donghae. Miina hanya menangis melihat perlakuan sahabat-sahabatnya. Bukan tangis sedih namun tangis haru. Selama ini ia terus menyimpan perasaannya karena takut sahabatnya marah bila mereka mengetahui hal yang sebenarnya. Namun ternyata semua itu berbeda dari bayangannya selama ini. “Khamsa hamnida teman-teman!” ucapnya lembut. Backscane Miina sangat terkejut, ia bingung harus berkata apa. Dengan cepat ia membalikan tubuh dan berlari menjauh. “Miina!” teriak Eunhyuk. “Kenapa aku jahat sekali? Aku sampai tidak menyadari kalau selama ini ia juga menyukai orang yang sama.” Ucap Gyuri dengan nada menyesalnya yang membuat Seorin menoleh. “Aku .. aku juga sama sepertimu!” gumam Seorin pelan namun masih dapat didengar oleh yang lain. Mendengar perkataan dua gadis itu Eunhyuk langsung membuka mulut. “Donghae kejar dia! Dia sekarang sedang membutuhkanmu! Tolong jaga dia baik-baik.” Mendengar pernyataan dari Eunhyuk, Donghae langsung berlari secepat mungkin untuk mengejar gadis yang sangat dicintainya. SELESAI

Sabtu, 13 November 2010

Cinta dalam hati


Akhir pekan tiba. Aku tak sabar untuk melewati hari ini. Saat aku tengah mengikuti pelajaran, tiba-tiba guruku menyampaikan beberapa pengumuman.
“Tolong perhatiannya anak-anak!” ujarnya.
Murid-murid terdiam.
“Karena sebentar lagi kita akan merayakan hari Raya Idul Adha, jadi untuk hari Senin, Selasa, dan Rabu kalian belajar di rumah masing-masing,” lanjutnya.
Teman-temanku serentak berteriak kegirangan. Memang untuk ukuran seorang pelajar tak ada yang lebih menyenangkan selain hari libur. Tak di duga hari inipun sekolah pulang lebih awal.
“Estel, main kerumah gue yuk!” Bella mengajakku dengan ramah.
“Emang siapa aja yang ikut?” aku bertanya.
“Helen, Putri, sama lo!” jawab Bella dengan nada riang.
“Ya udah…” aku mengiyakan.
***
Kami ber-4 pergi kerumah Bella bersama-sama. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Pada saat kami sampai di pertigaan dekat rumah Bella, pandanganku terfokus pada seseorang yang sedang berjalan kearah kami. Jika aku di perbolehkan untuk jujur, aku cukup terkesima pada sosok laki-laki itu. Satu hal yang membuatku terkejut, laki-laki itu mengenakan seragam yang sama denganku. Saat itu juga aku menarik tangan Bella agar langkahnya sama denganku.
“Bella!” sahutku pelan.
“Apaan?” jawabnya.
“Itu siapa sih?” tanyaku sambil menuding laki-laki yang baru saja melewati kami.
“Yang mana?”
“Itu!!” sekali lagi aku menunjuk laki-laki yang sekarang sudah berada di depan kami.
“Oh , dia! Namanya Aldi, emangnya kenapa?” Tanya Bella penasaran.
“Cuma pengen tau aja!” jawabku malu-malu.
“Suka ya lo?” tuduh Bella.
“Eh, ada apa sih? Ngobrol nggak ajak-ajak kita!” Helen dan Putri langsung bergabung dengan kami.
“In nih… Estel suka sama si Aldi. Itu tu… anak kelas 3!” Bella membeberkan.
“Apaan sih lo Bell, nyebar gosip aja!” protesku.
“Gosip apa gosip?? Udah jujur aja sama kita, nggak akan ada yang tau kok!!” Putri menawarkan.
“Maksa atau ngancem tu??” aku bertanya.
“Kurang lebih!” jawab Helen dengan nada ringan.
“Cuma kagum kok!” aku membenarkan.
“Mau dibantu buat pedekate nggak?” Bella menawarkan.
Tawarannya cukup menggiurkan bagiku, tapi aku tahu itu salah satu taktik Bella untuk memancing keinginanku. Aku diam sejenak untuk berfikir.
“Oya, rumah gue deket lho sama rumah dia, jadi gampang deh kalau mau nyari info tentang dia. Apalagi nyokap kita udah saling kenal!” Bella menambahkan umpan pada kata-katanya itu. Karena tak sanggup menolak, aku setuju dengan tawaran itu.
“Ok gue setuju! Tapi jangan sampai ada yang tau tentang masalah ini.” Aku mengingatkan.
“Sip!” Helen menjamin.
***
Hari Raya tiba. Setelah shalat ID, tanganku di Tarik oleh kedua adikku. Aku terus di paksa untuk menemani mereka melihat hewan kurban di sembelih. Sungguh membosankan menyaksikan sapi, kambing, dan kerbau di amputasi. Benar-benar konyol. Aku memperhatikan kedua adikku yang sepertinya sangat menikmati sekali tontonan yang ada di depan mereka. Saat sedang asyik melamun, berkhayal tentang kakak kelas pujaanku Aldi, tiba-tiba Hp-ku berbunyi melenyapkan imajinasiku. Tertera nama Bella di layar Hp-ku.
“Halo! Ada apa Bell?”
“Halo Estel? Kok berisik banget! Lo ada di mana sih?”
Aku langsung menyingkir dari keramaian, dan menarik kedua adikku pulang menuju kerumah.
“Sorry Bell, gue habis dari tempat pemotongan hewan kurban.”
“Hahhh… tempat pemotongan hewan kurban? Ngapain lo kesana?”
“Nganterin adik gue nonton hewan di sembelih!”
“Waduh film gratisan tuh?”
“Udah ah… langsung aja!”
“Oo.. iya! Sorry, gue punya kabar lucu tentang Aldi!”
“Apaan?”
“Kejadiannya waktu malam takbiran. Gue sama adik gue habis dari warung dekat Musholla,”
“Ngapain?”
“Tunggu sebentar! Jangan di potong.”
“Sorry, lanjut.”
“Si Aldi lagi ngasih makan sapi, kambing, sama kerbau! Hahaha… ngenesin banget!! Waktu itu pengen gue foto, baru mau ambil posisi yang pas, si Aldi ngeliat gue! Langsung aja gue kabur. Yang lebih mengenaskan lagi, adik gue ketinggalan!! Mau gak mau gue harus balik lagi , untung aja waktu gue balik dia gak terlalu merhatiin, fokusnya kekambing.”
“Huahaha… kasian banget sih lo!! Terus,”
“Ya udah, itu doang sih info terbaru dari gue!!”
“Ok! Keren kok.”
“Apanya yang keren?”
“Waktu adik lo ketinggalan!”
“Bodo aahh…”
“Ya udah… thanks ya!”
“Iya!”
Aku menutup ponselku, tak sadar bahwa aku sudah sampai di rumah. Untung saja kedua adikku tidak tertinggal saat aku sedang asyik bertelefon tadi.
***
Keesokan harinya, aku tak sabar untuk segera tiba di sekolah. Setelah mendengar cerita Bella kemarin, aku semakin bersemangat untuk bertemu Aldi.
Aku berangkat terburu-buru kesekolah. Saat sampai di kelas, aku di sambut oleh ketiga sahabatku, tentunya Helen, Putri, dan Bella.
“Lagi pada ngomongin apaan nih?” tanyaku penasaran.
“Cerita soal Aldi kemarin!” sergah Helen.
“Gue gak nyangka, cowok pujaannya Estel ternyata sangat manusiawi, penyayang binatang! Hahaha…” sindir Putri.
“Muji atau ngeledek??” tanyaku sinis.
“Kurang lebih!! Hahaha…” Helen tertawa puas.
Aku terkekeh.
Saat aku berdiri di ambang pintu kelas bersama dengan ketiga kawanku, Aldi lewat bersama dengan gerombolannya. Tanpa berfikir panjang, Bella langsung tancap gas dengan omongannya.
“Siapa ya yang waktu malam takbiran mainan sama sapi??” sindir Bella.
Teman-teman Aldi memang tidak menggrubisnya, namun Aldi langsung memalingkan pandangannya kearah kami. Wajahnya menunjukan mimik sinis bercampur dengan rasa terkejut setelah mendengar kata-kata Bella barusan. Aldi membuang muka, dan terus berjalan menuju kantin sekolah.
“Bella, Parah banget sih lo!” protesku padanya.
“Biarin! Biar dia malu sekalian.” Tuding Bella.
“Terserah ahh…” kataku kesal.
***
Jam pelajaran akhirnya selesai, diganti dengan jam istirahat. Saat berada di kantin, aku berpapasan kembali dengan Aldi. Aku benar-benar menyukainya, dan ini lebih dari rasa kagumku. Tapi aku tidak berani mengatakan hal yang sebenarya.
***
Pagi tiba, aku pergi kesekolah dengan menaiki kendaraan umum. Aku sangat terkejut karena ternyata aku satu mobil dengan Aldi. Dan yang lebih membuat jantungku benar-benar meledak, Aldi duduk di sebelahku. Saat itu juga aku tersadar bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk menegurnya. Tapi perasaanku terbagi menjadi dua, antara takut dan berani. Tapi dengan penuh tekat aku berusaha untuk melawan perasaan itu.
“Kkaa… kak Aldi! Selamat pagi. Mma-af ya soal waktu itu!” sapaku gugup.
Aku sangat gugup untuk mengucapkan kalimat itu. Karena terlalu takut aku langsung memejamkan mata dan tidak berani memdengar jawaban dari Aldi.
“Pagi juga! Emangnya kamu salah apa? Kok minta maaf sama kakak?” jawab Aldi dengan nada tenang.
Aku sangat terkejut karena tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini. Tanpa berfikir dua kali aku langsung menjawab.
“Soal kakak di sindir sama temenku waktu itu!” jawabku gugup. Aku memberanikan diri untuk memandang wajah Aldi, dan saat aku menoleh wajahnya begitu tenang.
“Ohh… soal itu! Gak apa-apa lagi, kamu gak salah kok! Bukannya yang nyindir temen kamu ya?” wajahnya masih menampakan ekspresi tenang.
“Aku wakilin permintaan maafnya!”
“Oh, ya udah! Kakak maafin deh kalau kamu yang minta.”
‘Ya ampun! Ngomong apaan sih nih orang? Gue kan jadi salting!’ aku berseru dalam hati.
“Ehmm… makasih ya kak!” ucapku.
“Sama-sama! Oya, kakak boleh tau gak nama kamu siapa?” Aldi bertanya.
“Estel.” Jawabku singkat.
“Nama kamu bagus!” puji Aldi.
“Kalau gitu gentian aku! Boleh gak aku minta nomor Hp kakak?” aku bertanya. Kini kalimat yang aku ucapkan sudah tidak terasa berat lagi di mulut.
“Boleh catat ya!”
Setelah mendengarkan kata-kata itu, aku langsung mengeluarkan Hp dan mulai memainkan jari-jariku di atas tombol Hp.
“Makasih ya kak!”
Setelah insiden itu, entah kenapa aku langsung cocok dengannya. Kami berdua terus mengobrol hingga tidak sadar sudah sampai di sekolah. Aku benar-benar gembira.
***
Malam harinya aku mencoba mengirim SMS pada Aldi. Aku benar-benar ingin melakukannya, tapi aku takut SMSku tidak ia balas. Akhirnya tanganku menekan tombol send .
Aku menunggu beberapa menit. Sunggguh melegakan melihat SMSku di balas oleh Aldi. Mulai dari situlah, aku dan Aldi saling bercerita tentang diri masing-masing.
***
Sudah hampir satu Minggu aku melakukan pendekatan dengan Aldi. Nanti malam aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya.
Hari ini adalah hari Sabtu. Setiap hari Sabtu sekolahku memang di khususkan untuk kegiatan ekskul. Ketika pulang ekskul aku, Helen, Bella, dan Putri pergi ke bioskop. Hari ini sangat ramai, kamipun membagi tugas. Helen dan Bella bertugas untuk mengntri tiket, sedangkan aku dan Putri yang membeli makanan.
Saat sedang membayar makanan yang telah aku beli, tidak sengaja aku melihat sosok laki-laki yang sangat aku kenal. Ternyata laki-laki itu adalah Aldi. Saat aku ingin menghampirinya, tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang menghampirinya dan langsung menggandeng tangannya. Mereka berdua terlihat sangat mesra, begitu mesra di mataku. Tak kusadari air mataku sudah menetes begitu saja di pipi. Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku dan buru-buru pergi menghindari Putri, sebelum Putri mulai bertanya macam-macam padaku. Aku langsung masuk ke toilet wanita, dan menangis geram di salah satu closet.
Fikiranku saat ini benar-benar kacau. Aku langsung membasuh air mataku untuk menghilangkan bukti bahwa aku tadi menangis. Aku bergegas menghampiri sahabat-sahabatku yang sepertinya cemas melihatku hilang begitu saja.
“Hai!” sapaku.
“Hehh… habis dari mana lo?” Tanya Bella dengan cemas.
“Toilet.”
“Ngapain?”
“Pakai nanya lagi!! Emang mau ngapain lagi coba?”
“SoRry… kirain ilang! Ya udah, masuk yuk! Filmnya udah mau mulai.”
“Yuk!”
Sepanjang pemutaran film, aku benar-benar tidak memperhatikan. Yang ada di fikiranku hanya ada satu, yaitu masalah tadi. Mungkin alangkah baiknya jika aku dan Aldi hanya menjadi teman biasa. Niat untuk menyatakan perasaanku luntur sudah. Aku akan menyimpan perasaanku dalam hati, tepatnya hanya menjadi teman biasa.
***
Sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi mengirim message pada Aldi. Tapi itu memang yang terbaik untuk dia, aku, dan hatiku. Walaupun berat tapi tidak apa-apa , aku yakin suatu saat nanti pasti ada yang lebih baik dari pada dia . Ya aku yakin!

Selesai

Senin, 21 Juni 2010

Alunan Musik di Hatiku

Alunan Musik di Hatiku

Oleh : Just Dill’s

Pagi itu Nessie terbangun dari tidurnya . Matanya pelan-pelan terbuka , ia mulai menatap langit-langit yang ada di kamarnya . Pagi itu Nessie sengaja bangun lebih awal karena hari itu adalah hari yang istimewa untuknya . Dari luar kamar terdengar suara pintu diketuk .
“Bangun Nes , udah pagi!” Suara itu mencoba untuk membangunkan Nessie .
“Aku udh bangun mbk Widie!” Nessie menjawab teriakan itu .
“Yaudah kamu siap-siap ya!” mbk Widie mengingatkan .
Mbk Widie adalah saudara Nessie yang tinggal satu rumah dengan keluarganya . Beberapa hari ini Nessie hanya tinggal dengan tiga orang saja di rumah , tepatnya dia , adiknya yang bernama Nindia , dan mbk Widie . Ayah Nessie di rawat di rumah sakit setelah beberapa hari menjalankan oprasi , dan ibu Nessie yang menemaninya selama di rumah sakit .
Hari itu adalah hari adalah hari yang istimewa bagi Nessie . Disekolahnya akan ada acara perpisahan . Nessie sangat ingin menghadiri acara itu . Ia ingin sekali melihat dirinya memakai kebaya . Kebaya itu adalah milik ibunya . Keinginan Nessie tidak sampai di situ . Ia ingin sekali melihat sahabat-sahabatnya memakai kebaya dengan tampilan yang berbeda . Dan satu hal lagi yang begitu ia tunggu-tunggu , ia ingin melihat orang yang dia cintainya tampil berbeda , begitu juga sebaliknya . Jauh-jauh hari pihak sekolah telah meminta Nessie untuk menjadi salah satu murid yang mewakili acara prosesi . Disekolah Nessie setiap perpisahan sekolah mempunyai sebuah tradisi . Salah satu murid perempuan dan laki-laki berjalan menuju atas panggung yang telah di sediakan , dan mengikuti prosesi pelepasan yang di lakukan oleh kepala sekolah .
Nessie memasukan kebaya dan pakaian gantinya kedalam tas . Ia akan memakai kebayanya setelah dirias nanti .
“Semuanya udah siap Nes?” Tanya mbk Widie .
“Udah mbk!” Jawab Nessie yang masih sibuk merapikan tasnya .
“Oh ya , nanti Nindia anterin kerumah bude aja dehh biar sekolahnya bareng sama Ika! Kan masih satu sekolah tu .” Usul mbk Widie .
“Oke!” Jawab Nessie singkat .
Setelah semuanya selesai , Nessie mengantar Nindia kerumah budenya . Ia pun kembali kerumah .
“Mbk langsung berangkat yuk!” Nessie berteriak-teriak dari luar rumah .
“Iya , sebentar!” Sahut mbk Widie .
Nessie dan mbk Widie pun mengendarai motor menuju salon yang akan merias Nessie nanti . Dan ketika sampai disana , ternyata petugas salon itu telah menanti kedatangan Nessie .
“Pagi mbk! Maaf agak telat .” Sapa Nessie pada petugas salon .
“Iya gak apa-apa kok , saya juga baru dateng!” Jawab petugas itu .
Nessie pun mulai dirias . Sesekali mata Nessie mengintip diam-diam untuk melihat bagaimana wajahnya saat itu . Setelah selesai dirias , Nessie sedikit demi sedikit membuka matanya . Nessie hanya bisa tertawa melihat wajahnya sendiri .
Setelah semua selesai Nessie pun berangkat menuju sekolahnya . Ketika sampai di sekolah Nessie menunggu sahabat-sahabatnya datang . Ketika semua telah datang berkumpul , mereka masuk kedalam sekolah bersama-sama . Nessie dan kawan-kawan duduk di kursi yang telah di sediakan .
Beberapa saat setelah Nessie duduk , dari samping Nessie di panggil oleh guru , bersiap-siap untuk prosesi . Ketika persiapan di belakang panggung tiba-tiba Ayina adik kelas sekaligus saudara Nessie menghampirinya .
“Nessie!” Ayina berusaha mengatur nafasnya setelah berlari-lari .
“Apa?” Nessie bingung melihat tingkah Ayina .
“Bokap lu! Hhh .. hh ..”
“Bokap gue? Bokap gue kenapa?” Nessie semakin kebingungan .
“Bokap lu kritis Nes , dari tadi mbk Widie nelfonin gue terus , tapi Hp gue eror gak bisa nerima panggilan , dia sms gue tadi!” Ayina berusaha menjelaskan .
“Hahh .. serius?” Nessie tak percaya .
“Serius , cepetan mendingan lu cari mbk Widie deh!” Ayina gegabah .
Tiba-tiba disaat yang sama teman-teman Nessie datang menghampirinya .
“Nes , lu di panggil sama pak Tarig” Pekik Anda salah satu sahabat Nessie .
“Dipanggil? Ngapain?” Nessie pun semakin tidak tenang . Belum sempat Anda memjawab pertanyaan itu , Nessie langsung berlari menuju kantor guru . Sahabat-sahabatnya mengikuti dari belakang .
Nessie menghampiri pak Tarig yang tengah menunggu di pintu gerbang .
“Kamu kerumah sakit dianterin sama siapa?” Tiba-tiba pak Tarig melayangkan pertanyaan pada Nessie . Saat itu Nessie begitu bingung . Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana . Nessie buru-buru meraih telefonnya dan ia menelefon mbk W idie ,
‘Halo , mbk? Mbk Widie ada dimana?’
‘Aku masih didalem , kamu ada dimana?’
‘Aku di depan , mbk cepetan keluar!’
‘Kemana?’
‘Tempat tadi waktu masuk!’
Nessie menutup telefonnya , ia emosi bercampur bingung . Karena terlalu takut , Nessie sampai menangis . Guru-guru dan sahabat-sahabatnya berusaha menenangkan Nessie . Dan setelah mbk Widie datang Nessie pun tergesa-gesa meninggalkan sekolah . Beberapa guru sempat berpesan pada Nessie , namun tidak terlalu ia dengarkan karena Nessie terlalu takut dan bingung dengan hal yang tengah terjadi .

Setelah menjemput Nindia , mereka bertiga segera berangkat menuju rumah sakit .
Sesampainya di rumah sakit , mereka berlari-lari kecil menuju lift dan naik kelantai 5 tempat ayah Nessie di rawat . Ketika Nessie datang , ternyata belum waktunya untuk jam jenguk . Tapi dengan susah payah Nessie membujuk satpam yang berjaga-jaga agar mereka diperbolehkan masuk . Dan pada akhirnya diperbolehkan . Ketika masuk kekamar ayahnya Nessie langsung memeluk ayahnya . Nessie terus menemani ayahnya , walau telah habis jam besuk , Nessie tetap menemani diluar .

♫ ♥♥ ♪

“Bu , bolehin kita pulang dong!” Pinta Zahra pada bu Ina .
“Tunggu sampai acaranya selesai!” Tegas bu Ina .
“Aduhh .. kita pengen cepet-cepet jenguk ayahnya Nessie bu!” Ria angkat bicara .
“Kaliankan bisa nunggu sampai acara selesai!” Bu Ina menegaskan sekali lagi .
Mereka pun akhirnya menyerah dan memilih untuk menunggu .
“Ahh .. Rese nih! Gimana dong? Kalau entar-entar takut kesorean jugakan.” Keluh Feny yang juga salah satu sahabat Nessie .
“Eh , ajak anak cowok juga dehh!” Usul Anda .
Akhirnya setelah semua berkumpul dan telah setuju untuk menjenguk kerumah sakit bersama-sama . Mereka menunggu sampai mereka diperbolehkan untuk keluar .
“Eh nanti yang cewek pada naik mobil gue aja , yang cowok naik motor ya!” Pinta Zahra .
“Gampang!” Timpal Adit , yang juga salah satu sahabat Nessie .
“Eh kayaknya udah boleh keluar dehh!” Seru Feny .
“Yaudah berangkat sekarang yuk!” Ajak Anda .
Tanpa berfikir panjang mereka semua segera menuju rumah sakit .

♫ ♥♥ ♪

“Lama-lama bosen juga ya nunggu kayak gini!” Nessie nulai mengeluh pada mbk Widie yang sejak tadi sibuk mengatur posisi duduk disebelahnya .
“Tau nihh , bolak kesana bolak kesini enggak tenang!” mbk Widie sependapat .
“Itu mah emang mbk aja kali yang bermasalah , dari tadi gak bisa diem banget!” Nessie bergumam .
Tiba-tiba Hp Nessie berbunyi , tertera nama Adit dilayar Hpnya .
‘Nes , lu lagi dimana? Gua sama anak-anak udah hampir sampai nih?’
‘Hampir sampai? Lu pada kesini ya?’
‘Iya! Anak ceweknya udah pada dateng belum?’
‘Haduhh .. pada mau ngapain sih? Anak ceweknya belum pada dateng . Emang kalian kesininya pada gak bareng?’
‘Iya , anak cewek naik mobilnya Zahra , yang cowok naik motor .’
‘Ohh . yaudah’
‘Yaudahh .. nanti kalau kita udh sampai gue kabarin lagi dehh .’
‘Ok!’ Nessie menutup telefon , dan mulai menelefon lagi , tepatnya menelefon Anda .
‘Halo , Anda?’
‘Halo Nes , kenapa?’
‘Kalian pada mau ke RS ya?’
‘Iya , kita udah diparkiran depan nih!’
‘Udah nyampek?’
‘Iya’
‘Yaudah kalian langsung aja masuk , terus ambil ke kiri , pokoknya kiri terus . Nanti disitu ada lift , naik deh kelantai 5 .’
‘Ohh .. oke deh’
Nessie mengakhiri percakapannya . Setelah menunggu beberapa menit sahabatnya pun muncul dari balik lift . Mereka langsung menghampiri Nessie yang tengah duduk diruang tunggu didekat lift itu .
“Gimana Nes keadaan bokap lu?”
“Udah gak apa-apa kok! Tadi emang sempet kritis , tapi sekarang udah tenang.” Nessie menjelaskan .
“Syukur dehh!” Zahra mendengus tenang .
“Haha , Fen lu tadi masuk kedalem belum ganti baju ya? Masih pake kebaya aja . Diliatin lu?” Tanya Nessie seraya menertawakannya .
“Iye , diliatin gue Nes! Malu banget gue dahh .” Jawab Feny suntuk .
“Emang lu masih punya malu?” Ledek Nessie .
“Tau ahh .. udah gue bela-belain juga .” Gerutu Feny .
“Hahaha , bercanda Fen! Thanks ya semuanya!” Nessie berterimakasih .
“Eh , Agus telefon! Nes , lu aja yang ngomong!” Anda menyodorkan Hpnya pada Nessie .
‘Halo gus?’
‘Halo An!’
‘Ini gue Nessie.’
‘Oh , lu Nes , eh mgomong-ngomong kita udah disepan RS , kemana lagi nih?’
‘Lu masuk aja terus jalan kekiri , nanti disitu ada lift , dideket lift ada yang jualan donat deh . Terus lu naik ke lantai 5 ya!’
‘Oh sip deh!’
‘Ok’ Nessie menutup telefon .
Tak lama kemudian sahabat Nessie yang lain datang , Ketika Nessie memperhatikan lebih detail , senyum Nessie merekah .
“Wahh .. wahh Nes kebaya lu mana? Pake dong , foto prawedding dahh mumpung Aldi masih pake jas!” Goda Ria .
“Hhahaha , ada tuh di dalem!” Nessie menunjuk sebuah ruangan yang dijaga oleh seorang satpam .
“Eh , laper gua! Makan yuk beli donat di bawah” Ajak Zahra .
“Dibelakangkan ada kantin Zah!” Nessie memberitahu .
“Ada Nes? Yaudah makan yuk!” Ajaknya kembali .
“Yaudahh yuk!” Feny mengiyakan .
Mereka semua turun dan pergi menuju kantin di belakang . Mereka saling berbincang-bincang , bercerita bagaimana jalannya acara perpisahan tadi disekolah . Ketika ingin pulang Nessie sempat mengobrol dengan Aldi , pacarnya .
“Kesampean juga ngeliat kamu pake jas!” Nessie tersenyum pada Aldi . Aldi membalas senyumannya .

♫ ♥♥ ♪

Pagipun kembali tiba . Nessie tidak bisa menggerakan tubuhnya . Ia hanya bisa menyesali semuanya . Berat rasanya . Nessie bertanya-tanya dalam hatinya . Kenapa masalah datang berturut-turut? Ayahnya tiba-tiba kritis , ia tidak bisa mengikuti acara perpisahannya . Yang membuatnya begitu sedih , dia belum sempat melihat sahabat-sahabat dekatnya memakai kebaya . Avi , Riri , dan Kenan . Mereka belum sempat bertemu . Tapi Nessie juga berfikir , tidak ada gunanya menyesali itu semua . Yang telah berlalu biarlah lewat . Mungkin memang hari itu bukan hari yang istimewa untukknya , pasti ada hari lain yang telah disiapkan untuknya nanti , hari yang spesial untuknya .
Setiap jam berlalu , menyusuri hari ini . Sampai pada akhirnya senja sore pun menggantikan panasnya siang . Hp Nessie berbunyi .
‘Halo Nes!’
‘Halo Inta . Kenapa lu?’
‘Nes sorry ya , kemarin gua gak ikut jenguk ayah lu!’
‘Gak apa-apa Ta!’
‘Tapi gua doain kok , semoga ayah lu cepet sembuh!’
‘Aminn , makasih ya!’
‘Iya’
‘Eh bentar ya , gua mau bales sms , gua lagi smsan sama Aldi!’
‘Ehmm .. iya dehh .’

‘Halo Ta?’
‘Ya Nes!’
‘Ta gua putus sama Aldi’
‘Apaan? Putus?’ Boong ah lu!’
‘Serius!’
‘Kenapa emang?’
‘Nggak tau , ya ampun gue nyesek banget!’
‘Nes , mending lu selesain dulu deh baik-baik kalau emang kalian lagi ada masalah!’
‘Gue gak lagi ada masalah apa-apa Ta sama Aldi , mau nyelesain gimana?’
‘Tapi kok lu bisa putus sih?’
‘Gue gak tau , gua juga bingung’
‘Tenangin diri lu , coba deh cerita’
‘Iya tadi awalnya gue sms dia , soalnya seharian ini dia gak sms gue . Gue ajak bercanda . Bercandanya juga gak macem-macem kok . Tiba-tiba dia sms minta jadi temen biasa aja . Gue tanya apa alasannya , ya alasannya simple aja , karena udah gak cocok . Hhhh gila ya? Sumpah gampang banget dia ngomong gitu!’
‘Ya ampun Nes , kok bisa gitu sih? Tiba-tiba lagi! Sabar ya Nes ..’
‘Gue kecewa banget Ta’
‘Iya gue tau banget gimana perasaan lu! Mendingan lu istirahat and tenangin diri dulu aja ya .’
‘Iya , makasih ya udah mau dengerin cerita gue!’
‘Iya sama-sama , dahh Nessie!’
‘Daa!’
Malam itu Nessie hanya bisa berbaring ditempat tidur tak berdaya . Mengingat semua masalah yang datang menghampirinya secara berturut-turut . Hatinya begitu perih sampai menangispun ia tidak meneluarkan air mata . Tubuhnya lemas . Sampai pada akhirnya matanya mulai tertutup pelan-pelan , ia pun mulai terlelap . Nessie hanya dapat berharap , besok semuanya akan membaik . Semuanya akan baik-baik saja .

♫ ♥♥ ♪

Tok! Tok! Tok!
“Nes , bangun! Udah pagi ..” Teriak mbk Widie berusaha membangunkan Nessie .
“Iya mbk!” Nessie menjawab , suaranya parau , pelan-pelan mbk Widie membuka pintu kamar .
“Kamu nanti ikut jemput ayah kerumah sakit gak?” Tanya mbk Widie .
“Kayaknya gak dehh!” Jawab Nessie dengan keadaan masih berbaring .
“Ohh .. yaudah , mbk berangkat kerja dulu ya!” mbk Widie berpamitan .
“Iya” Jawab Nessie singkat .
Nessie bangun dan mencuci mukanya , wajahnya begitu kusut dan lesu .
“Ya ampun muka gue udah cakep malah tambah cakep dah habis nangis semaleman!” Gumamnya sendiri .
Ia pun mulai merapikan rumah sekaligus merapikan dirinya sendiri . Tak lama kemudian Hp nya berbunyi .
‘Halo!’
‘Halo mbk Widie , kenapa?’
‘Nes , kamu hisa bantuin mbk gak?’
‘Bantuin apa?’
‘Aduhh .. Berkas-berkas mbk ketinggalan dimeja belajar kamu! Kamu mau nggak nganterin kerumah sakit?’
‘Oh , yaudah aku anterin sekarang!’
‘Ok , makasih ya!’
‘Iya’
Nessie buru-buru meraih tasnya dan berkas milik mbk Widie yang ada dimejanya . Nessie pergi menuju stasiun , membeli tiket kereta , dan membawa berkas itu ke rumah sakit tempat mbk Widie bekerja .
Setelah menyerahkan berkas itu Nessie langsung bergegas pulang .
“Pak , ekonomi AC jam berapa?” Tanya Nessie pada petugas di stasiun .
“Baru aja lewat!” Jelasnya secara singkat .
“Kalau ekonomi biasa?” Tanya Nessie kembali .
“Sebentar lagi .” kata petugas itu .
“Yaudah ekonomi biasa satu!” Nessie membeli tiket . Nessie sedang terburu-buru mengejar waktu , tidak sempat bila harus menunggu kereta lama-lama . Tak lama kemudian kereta datang . Keretanya begitu penuh dan sesak . Perasaan Nessie tiba-tiba menegang .
‘Ya ampun , hidung belang! Gimana nih? Ya Allah tolongin Nessie!’ Serunya dalam hati .Karena begitu ketakutannya , ia sampai menangis .
Plakkk!
“Jangan pernah lo sentuh cewek ini lagi!”
Suara laki-laki itu membuyarkan ketakutan Nessie . Semua mata yang ada dikereta itu tertuju pada keributan ini . Tapi Nessie tidak berani menoleh , matanya tertunduk , memandangi tangan dan kakinya yang lemas . Ketika kereta berhenti disebuah stasiun , laki-laki yang tadi menyelamatkan Nessie , menarik tangannya keluar dari kereta itu . Nessie duduk disalah satu bangku di stasiun itu .
“Lu gak apa-apa kan? Bahaya kalau masih di terusin . Sorry tiba-tiba gua narik lu keluar dari kereta itu!” Laki-laki itu berusaha menjelaskan . Tapi tiba-tiba Nessie menangis .
“Eh .. Eh .. lu kenapa? Aduhh jangan nangis dong!” Laki-laki itu kebingungan . Tapi Nessie tidak bisa berhenti menangis .
“Ok .. Tunggu ya! Gue beliin lu air dulu . “ Laki-laki itu berlari kecil .
Mata Nessie mulai terbuka kembali , ia melihat sekelilingnya , begitu sepi . Ia menoleh kesamping , ada sebuah biola yang diletakkan disebelahnya .
“Biola?” Gumamnya pelan . Tiba-tiba lelaki itu datang dengan ter engah-engah menghampiri Nessie dan menyodorkan air minum padanya .
“Nihh .. Minum!” Katanya .
“Makasih!” Nessie menjawabnya pelan . Laki-laki itu duduk disebelah Nessie, dan berusaha mengatur ritme nafasnya kembali .
“Gimana? Udah enakan?” Tanya laki-laki itu memastikan .
“Udah , makasih banyak ya!” Ucap Nessie .
“Iya , lagian udah tau lu cewek kenapa pake naik ekonomi biasa sih?” Tegurnya .
“Idihhh .. lu gak tau apa masalahnya pake nyalahin gue lagi!” Ucap Nessie kesal .
“Eh , sorry bukan maksud gue!” laki-laki itu menenangkan .
“Yaudahlah!” Seru Nessie .
“Oya , nama gue Ara!” Ara memperkenalkan diri .
“Gue Nessie!” kata Nessie singkat .
“Emang lu mau kemana Nes?” Tanya Ara .
“Gue mau pulang?” Jawabnya .
“Iya kemana neng?” Tanya Ara kembali .
“Kerumahlah ..”
“Ngeselin ya!”
“Lahh emang gue mau pulang kerumah Ara!”
“Rumah lu dimana?”
“Di depok!”
“Yaudah gue beli tiket dulu ya!” Ara meninggalkan Nessie dan biolanya berdua . Dan tak lama kemudian Ara kembali .
“Nihh tiket lu!” Ara menyodorkan tiket , Nessie memperhatikan tiket itu .
“Ekonomi AC?” Nessie menoleh pada Ara .
“Iya!” jawabnya singkat . Ara sibuk memangku biolanya .
“Biola lu?” Nessie memulai pembicaraan .
“Iya!”
“Emang lu mau kemana?” Tanya Nessie .
“Ngamen!” jawabnya cuek .
‘Whattt? Ngamen? Orang yang tadi nolongin gue dan yang sekarang lagi sama gue pengamen?’ serunya dalam hati .
“Serius lu?” Tanya Nessie setengah tidak percaya .
“Serius! Kenapa emang?” Jawab Ara datar tanpa intonasi dan tanpa ekspresi .
“Nggak apa-apa , kerenn!!” Nessie kagum .
“Hahh .. keren? Gak salah srespon lu?” Tanya Ara tak percaya .
“Nggak , keren kok! Jarang-jarang gue ketemu orang unik kayak lu!” Jelas Nessie .
“Dehh .. ngeselin!”
“Habis dari mana lu Ra?”
“Habis dari sanggar!”
“Apaan? Sanggar? Ahh .. katanya pengamen masih bisa aja les , udah gitu kalau gue perhatiin , style lu tuh bukan style pengamen . Makin gak percaya gue!” Tuding Nessie .
“Emang pengamen gak boleh rapi ya?” Ara balik bertanya .
“Hehe , iya juga sih!” Suasana hening sejenak .
“Eh .. buat ganti rugi karena lu udah nurunin gue disembarang stasiun , gua request!” Nessie mulai angkat bicara kembali .
“Bilang aja mau dengerin gue main biola!” Tuduh Ara .
“Idihh .. geer! Hahahaha .. apalah kata lu , yang penting gue request .”
“Lagu apa?” Ara membuka tempat biolanya dan mengeluarkannya .
“My heart will go on dong!” Pinta Nessie .
“Boleh!”
Ara mulai menggesek biolanya . Alunan suara yang merdu dan indah masuk ketelinga Nessie . Matanya tertutup , ia terhanyut mendengar itu semua . Tempat itu sepi , hanya ada satu atau dua orang saja . Hatinya begitu tenang . Sampai pada akhirnya Nessie diantar oleh Ara sampai turun dari kereta . Disepanjang perjalanan , Nessie terus bercerita pada Ara . Padahal baru satu hari bertemu , namun rasanya seperti sudah bertemu berhari-hari .

Malam harinya Nessie menceritakan semua kejadian yang telah ia alami hari itu pada mbk Widie .
“Ehmm .. masuk kategori pengalaman yang menyenangkan atau yang menyedihkan nih?” Goda mbk Widie .
“Dua-duanya boleh!” Jawab Nessie .
Nessie hanya bisa tertawa sendiri bila mengingat itu semua .

♫ ♥♥ ♪

Jam 05.00 pagi , Nessie sudah terbangun karena alaram yang sengaja ia atur .
“Mbk Widie , mbk nanti pulang jam berapa?” Nessie langsung menghampiri mbk Widie yang tengah asyik menyiapkan sarapan .
“Nanti mbk pulang cepet , disana juga gak sampai dua jam , kenapa emang?”
“Boleh ikut gak mbk?” Tanya Nessie .
“Wahh .. ada apa nih , kok tumben?” Tanya mbk Widie dengan curiga .
“Ayolah! Nanti aku nunggu dikantin aja mbk! Please” Nessie mulai membujuk .
“Yaudah , kalau mau ikut siap-siap sana!” Pinta mbk Widie .
“Sip!” Nessie langsung siap-siap begitu diberi aba-aba oleh mbk Widie .

Ketika menunggu kereta datang , Nessie melihat sosok yang ia kenal .
“Ara!!” Panggil Nessie . Ara pun menoleh .
“Eh , Nessie! Mau kemana?” Tanya Ara seraya berjalan mendekati Nessie dan mbk Widie .
“Mau ikut mbk Widie kerumah sakit! Oya , kenalin nih mbk aku , namanya Widie!” Nessie memperkenalkan , mbk Widie dan Ara berjabat tangan .
“Mau kemana lu Ra?” Tanya Nessie .
“Ke sanggar!” jawabnya .
“Mau bareng?” Nessie menawarkan .
“Boleh! Oya jangan lupa naiknya ekonomi AC ya neng!” Ara meledek . Mbk Widie ikut terkekeh mendengarnya .
“Bawel! Ngapain lu disini?” Tanya Nessie .
“Habis ngamen!”
“Dimana?”
“Tuh dibawah!”
Nessie menoleh kebawah .
“Jiahh .. biola , gitar , cello , komplit semua tuh! Kok lu malah pergi?” Tanya Nessie heran .
“Kalau pagi gue ngamen didepan dari jam 6 sampai jam 7 . Jam 7 keatas gue kesanggar . Siangnya gue gantian ngamen diawah!” Jelasnya .
“Diluar mana?”
“Tuhh , disebelah sana! Kalau pagi gue sering liat lu berangkat sekolah bareng temen-temen lu . Waktu itu lu juga pernah ngasih uang ke kita!” Ara memperjelas .
“Ohh .. lu yang sering main biola disana itu ya?” Nessie mulai memahami .
“Iya”
”Ahh .. lu ngejelasinnya terlalu jelas Ra , ampe buka kedok gue lagi!” Protes Nessie .
“Hahahaha .. sorry!”
Keretapun datang , mereka bertiga mauk kedalam kereta itu dan turunpun bersama-sama .
“Emang lu les dimana Ra? Kok turun bareng kita juga?” Tanya Nessie .
“Kenapa emangnya? Lu mau ikut?”
“Idihh .. geer banget ya lu!” seru Nessie .
“Haha , gak apa-apa kali kalau lu mau ikut!” tawar Ara .
“Boleh nih? Lama gak??” Tanya Nessie penuh semangat .
“Paling lama juga dua jam!” jelasnya .
“Mau! Mbk aku akut dia kesanggarnya ya! Nanti kalau mbk udah pulang telfon aku aja ya!” pinta Nessie pada mbk Widie .
“Yaudah! Hati-hati ya!” mereka berpamitan dan pergi berlainan arah .

Nessie dan Ara tiba disebuah bangunan tua . Bangunan itu berstruktur seperti gereja , namun bila kita telah masuk kedalamnya disana hanya terdapat sebuah ruangan . Lebih tepatnya dapat disebut aula . Diujung ruangan terdapat sebuah pintu yang ukurannya cukup besar , entah ruangan apa itu . Ketika mereka datang , ternyata banyak murid-murid lain yang telah datang juga .
“Siapa Ra?” Tanya seorang laki-laki yang seumuran dengan Nessie .
“Oh , temen gue!” jawab Ara .
“Oh , hei! Nama gue Ilham .” Ilham memperkenalkan diri .
“Nessie!” Nessie dan Ilham berjabat tangan .
“Nes , lu tunggu disini dulu ya , latihannya mau dimulai!” Pinta Ara .
“Ok!” Nessie mengiyakan .
Nessie duduk disalah satu kursi yang ada disana . Nessie begitu menikmati dan terkagum-kagum menyaksikan latihan itu . Hatinya begitu tenang .

Ternyata latihan selesai lebih cepat . Ara menghampiri Nessie yang sejak tadi duduk menungguinya .
“Lama ya?” sapa Ara .
“Nggak kok! Masih capek ya lu! Tunggu sini dulu ya!” Nessie berlari-lari kecil keluar sanggar , ia pergi membeli minuman di toko dekat sanggar itu .
“Bu , beli aquanya satu ya!” Pinta Nessie .
“Iya , sebentar ya!” jawab seorang ibu-ibu penjaga toko itu .
“Oya bu , boleh nanya nggak?”
“Nanya apa neng? Sok atuh!” Ibu-ibu itu mempersilahkan .
“Itu sanggar ya bu?” Nessie berpura-pura .
“Oh , itu! Iya neng itu sanggar! Sanggarnya orang kaya itu teh . Mahal banget neng masuk situ . Dari depan aja kelihatan kecil , sederhana . Tapi kalau masuk kedalem terus jalan kebelakang aula , wuihhh .. luas banget! Murid-murid disini juga rata-rata antar jemput naik mobil semua .” Jelas ibu-ibu itu penuh semangat .
“Oh .. makasih ya bu!”
“Iya neng!”
Nessie masuk kembali kedalam ruangan itu . Ia melihat Ara yang tengah sibuk menggesek-gesek biolanya .
“Nihh .. minum!” Nessie menyodorkan minuman pada Ara .
“Thanks!”
Nessie duduk desebelah Ara , Nessie begitu penasran dengan apa yang dikatakan oleh ibu-ibu penjaga toko tadi .
‘Katanya ini sanggar mahal , tapikan Ara cuma pengamen! Kalau emang mahal kok dia sanggup ngebiayai? Ah , Nessie bodoh banget sih lu! Gak merhatiin lagi tadi murid-muridnya pada antar jemput pake apaan .”
“Woyy!” Ara membuyarkan lamunan Nessie .
“Ehh .. apaan?” Nessie terkejut .
“Nglamun terus!” Ara menegur .
“Hehe .. oya main biola tuh susah gak sih?”
“Ya kalau buat pemula sih pasti susah! Tapi kalau udah bisa pasti bilangnya gampang!”
“Yaiyalahh .. nenek-nenek juga tau kali!”
“Hahaha , mau gue ajarin?” Ara menawarkan .
“Boleh nih?” Nessie memastikan .
“Bolehlah!”
Ara mengajari Nessie cara memegang biola , sampai cara menggesek biola .
“Eh , bunyi!” Seru Nessie .
“Dasar norak!!” ledek Ara .
“Bodo! Hahaha”
Mereka menghabiskan waktu bersama . Ara mengajarkan Nessie dengan penuh kesabaran . Sampai pada Nessie diantar kestasiun untuk menemui mbk Widie yang telah menunggunya .

♫ ♥♥ ♪

Beberapa hari setelah itu Nessie semakin jarang bertemu dengan Ara . Sampai pada suatu hari Nessie dan teman-temannya pergi ke Jakarta , untuk singgah makan Ice Cream disebuah toko Ice Cream Ragusa yang berada di Juanda , Jakarta .
Saat di stasiun , ia melihat ke bawah tempat Ara biasa mengamen , ternyata tidak ada Ara disana . Nessie cukup kecewa .
Kembali dari Ragusa , Nessie mengantar sahabatnya Tari ke tempat kendaraan umum . Nessie berfikir untuk kembali ke tempat pengamen-pengamen tadi . Ketika sampai disana , Nessie hanya bisa berdiri diam menatap mereka , sampai akhirnya satu kalimat terlontar dari mulutnya .
“Hei!” Nessie tersenyum , pengamen itu menatap Nessie .
Ternyata mereka mengenal Nessie . Ara sering bercerita pada mereka . Nessie sempat bertanya tentang latar belakang Ara . Dan ternyata benar , sesuai dugaannya Ara adalah orang berlatar belakang yang cukup terpandang . Tapi dia bukan type laki-laki yang bangga untuk mengumbar-ngumbar segala sesuatu yang ia punya . Dan satu hal lagi yang membuat Nessie terkejut , baru kali inilah Ara berani bercerita tentang masalah wanita pada mereka .
Nessie pulang kerumahnya dengan perasaan tenang . Kini ia tahu semuanya . Tapi , untuk beberapa saat ini Nessie tidak bisa bertemu dengan Ara , karena Ara sedang dibutuhkan oleh ayahnya untuk beberapa hari .
Memang bila di perhatikan , penampilan Ara tidak bisa disebut penampilan seorang pengamen . Wajahnya bersih terawat , kulitnya pun cukup putih , cara berpakaiannya rapi . Itulah yang membuat Nessie tidak yakin ketika pertama kali bertemu Ara .
‘Haduhh .. kenapa gue jadi mikirin dia terus!’ gumamnya dalam hati .

♫ ♥♥ ♪
“Nes , ibu mau ngomong sama kamu!” Pagi itu ibu mengajak Nessie untuk berbincang-bincang .
“Ngomong apa bu?” Nessie tersenyum pada ibunya .
“Nes , ibu sama ayah kamu udah setuju , kita akan pindah ke Kalimantan!”
“Hahh .. serius?” Nessie begitu terkejut .
“Iya!”
“Kok bisa , kenapa emang bu?” Nessie bingung .
“Nes , keadaan kita disini udah gak memungkinkan! Usaha ayah kamu semakin turun . Udah gitu ayah kamu juga sakit! Kamu nurut ya?” Pinta ibu .
“Ehmm .. iya bu!” Nessie menurut .
Walau sebenarnya perasaannya begitu berat .
“Emang kapan pindahnya bu?” Tanya Nessie .
“Minggu depan Nes!” Ibu menjawab .
Nessie hanya bisa memandangi kalender yang ada di kamarnya .
Nessie tidak memberitahukan masalah ini pada siapapun . Hanya ada Dua sahabatnya yang ia beritahu . Nessie meminta pada mereka untuk merahasiakan masalah ini.

Beberapa hari telah berlalu , sampai pada hari dimana Nessie harus pergi meninggalkan semuanya . Sebelum ia pergi , Nessie menitipkan sebuah kertas pada sahabat-sahabat Ara . Seraya menceritakan semuanya . Nessie hanya berpesan satu kalimat .
“Tolong kasih kertas ini sama Ara , tapi kalau dia nanyain aku! Kalau nggak , tolong simpen ya sampai dia bener-bener nanyain!”
Nessie pergi meninggalkan semua , meninggalkan kenangan , meninggalkan sahabat-sahabatnya , tapi ia tidak akan melupakan semua iu .

Ketika dibandara Hp Nessie tiba-tiba berbunyi .
‘Halo’
‘Halo! Dasar cewek norak plus bawel’
‘Dihh .. siapa nih? Gak jelas banget’
‘Ini gue Ara!’
‘Oh , elu Ra! Kenapa?’
‘Kenapa! Kenapa! Gampang banget lu ngomong .”
‘Maaf!’
‘Sampai kapan lu pergi?’
‘Ehmm .. sampai gue jadi sukses dong’
‘Yaudah , due tungguin , kayaknya gue harus super sabar nih!’
‘Hahaha , nungguin buat apa?’
‘Gue ….’
Ara menyerukan sebuah kalimat , namun terdengar samara-samar karena suara pesawat .
‘Hahhh .. apaan? Gue gak denger!’
‘Gak ada siaran ulang!’
‘IIhhh nyebelin .’
‘Gue ulang tapi sekali aja ya , dengerin baik-baik! Nessie , Ara sayang sama Nessie .’
‘Hahh!!’
‘Hahh .. hhoohh .. hhahhh .. hhohh ..’
‘Tapikan?’
‘Gue akan sabar nungguin lu!’
‘Yakin?’
‘Yakin banget .’
‘Tungguin gue ya , sampai gue balik! Siapa tau waktu gue balik nanti gue udah bisa main biola . Jadi lu gak usah repot-repot ngajarin gue , hehehe’
‘Hahaha , kalau bisa sih mendingan lu gak bisa-bisa deh .’
‘Lho kenapa emang?’
‘Biar gue bisa terus ngajarin lu!’
‘Dehh .. dasar maunya!’
‘Biarin!!’
‘hahaha .. Sabar ya!’
‘Iya Nessie!’
Alunan musik di hati Nessie akan selalu melantuntan suara-suara yang indah , yang akan selalu menghiburnya bila nanti masalah datang menghampirinya .

♫ Selesai ♫

Selasa, 01 Juni 2010


93 Part V

Ehmm .. 93 kali ini ngunjungin ragunan again . Soalnya kita sempet janji kalau kita udah lulus kita akan keragunan lagi *yang janji si nazrath sih* hahaha

Di ragunan gua gak terlalu terlibat sama situasi , habisnya gua sibuk ngasuh bayi sih (si aldizar) . Tapi gua ngeliat anak-anak pada seneng banget , gpp dahh ahh . Sempet makan kerak telur juga , hahahaha .

Yang sangat di sayangkan oleh kami adalah ketidak adaan kumbo di sana . Oya , kita sempet melihat drama terlarang antara anak orang utan dengan ibunya .

And yang terakhir , nyaris di sembur sama gajah . Habis dari Ragunan , kita nongkrong di 88 dulu . Habis itu kita main ke rumah Maria dahh ..

Di rumah maria si putari cerita lepas banget soal ortunya , hahaha . Pulang dari situ kita main anter-anteran , hoho

*Asyik ye yang di anter*

To be continue ..


93 Part IV

Di cerita kali ini 93 ngadain perpisahan di puncak . Kita nginep di vila punya emak (sinta) . Lumanyun dahh , gak terlalu mahal *hehehehe*

Kita ngumpul di gg rumah papi yudie jam 7 . Tapi gua sengaja ngarett , hahaha *ternyata ada yang lebih ngaret dari gua*

Waktu mau jalan , gak di sangka2 kita nambah anggota baru , yaitu Putari . Di perjalanan masih sempet aja yang cewek godain cowok di bus sebelah , hohoho *emang cowok doang yang bisa godain cewek!!*

Anak cowok pun gak mau kalah , mereka ikut2 godain cewek di bus sebelah .

And then , sebelum kita ke puncak kita mampir dulu ke taman matahari . Pengennya naik arumjeram , ehh malah naik kapal di kolam , mana si aditdutdetdoot usil banget lagi , basah semua dahh .

Selesai main kita balik lagi ke bus , capcus dahh ke puncak .

Sampai di puncak , kita semua asyik foto2 di luar , hahaha . Gak di sangka , moment ke puncak tuh nyiptain banyak kenangan . Dari situ gua tambah deket sama my lovely , sampai ada juga yang cinlok *Ehhmmm .. yang ngerasa ngaku*

At night kita semua ke puncak pas . Di sana pemandangannya kurang indah , kata kak kiki and mbk sari sih coba kita naik dikit lagi , udahh deh di jamin puas dahh . Pulangnya ada yang jalan kaki and ada yang naik angkot . Kalau gua sih jalan , biar lebih seru *itu yang namanya menikmati*

Di sepanjang jalan ternyata pemandangan kanan-kiri gak uenak banget . Kalau buat cowok sih , tuh tontonan asyik , lah buat cewek!?

Behh , kaki bener-bener kaku dah jalan segitu jauhnya . Di jalan tepatnya di salah satu warung ada si bagus lagi asyik duduk minum , gak jauh dari tempat duduknya ada cewek yang jaga *sepiknya pinter banget si bagus , pura-pura beli minuman , duduk manis , sambil nungguin anak-anak lewat* ~~najong

Pulang dari puncak pas kita mulai nejalanin rencana buat ngerjain emak *sebenernya udah jalan dari tadi sih tu rencana*

Sampai pada endingnya yaitu ketika bakar ayam , emak di kerjain and di labrak abis-abisan sama nazrath *sadisss* dia sampai nangis nyesek banget , hahaha . Sampai marah-marah lagi emak , ngamuk dia *gua gak berani ikut-ikutan ngalabrak , gua nyadar diri gua kalau ngelabarak orang suadiss banget* hahaha

Untung emak gak marah lagi , makan dah ayam bakar . Selesai makan kita cap cus tidur , besok paginya kita balik *yahh , gak puas*

Paginya kita semua siap-siap buat balik . Hhuhuhu , gak puassssss .

Ternyata berselang beberapa hari setelah itu , diriku mendapatkan kabar bahwa ada yang baru jadian , ehmmm nambah pasangan dah di 93 , hahaha .

Congratulations for Adit and Putari , hahaha . ohh ya , ada juga yang sampai sekarang masih di ajang pedekate gak kelar-kelar that is Devin and kak Kiki .

Haduhh , ayo dong biar nambah pasangan lagi dah , hahaha

To be continue ..

Nb : kalau ada cerita yang kurang mohon di maafkan yah , I’m forget .. hehe

93 part III

Di cerita kali ini , 93 mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan , but fun . Senin tanggal 3 Mei 2010 , awlnya kita sama sekli gak kepikiran untuk jalan . At school , kita meeting ngomongin masalah kepuncak , dari masalah berangkat jam berapa sampai ngomongin masalah makan . Setelah itu , kita semua ngumpul sebentar berunding mau jalan kemana . Adit and gua sih pengennya ke KOTU terus baliknya ke monas deh . Tapi Maria gak mau sih , dia pengennya balik jam 12an (Haduhhh singkat amat jalannya) . Ending kita jalan keragunan dah , tanpa dibekali helm dan duit .

Baru masuk Ragunan , kita udah di sambut sama bule (padahal cuma ngomong animal doang langsung ngerespon tu bule) , langsung inget bu ida si adit (kan sering ngomong yes , no , I love you , tak kill you) *haduhh* . Next waktu kita lewat di depan kandang gorilla , uuaaaa~~

Gorilanya ngamuk and mengaung!!!!! Habisnya kita berisik banget sih , tu gorila jadi ngamuk dah , syoked abiss dahh di teriakin sama gorila *kaburrrr*

Kata bocah sih tu gorilla ngikutin si Miko , maybe mirip kali , hhahahhaha (dikira kembarannya) .

And we have a moment that I think fun , I watched orang utan!!! Ohhh , cool and cute .

And then , kita masuk ke gua teriak-teriakan gak jelas . hhahhaha

Mana harus ngelewatin kandang gorilla yang tadi lagi , haduhhh . Si Bagus sampai jalan aja misah nyingkir jauh-jauh , segitu takutnya .

Finally , kita dikerjain sama bule yang tadi . rencananya kita mau minta foto bareng , sampai gua hapalin tu bahasa inggris “can I take some picture with you?” , gua uber-uber sampai pintu keluar . Si nazrath salah ngomong lagi , katanya “can I picture take some with you?” (haduhhh , kebalik neng!)

Waktu mereka jawab ternyata tu bule bisa bahasa Indonesia *gubrakkk* susah-susah ngerangkai kata-kata sampai di hapalin juga .

Waktu jalan keparkiran ada pertunjukan beruang madu dan saat disebutin nama beruang madunya , katanya “Ida” hhahahahaha , anak-anak ketawa bahagia (inget salah satu guru) .

Uhhhhh , parahhh!!

To be continue ..